Guru ini Berhasil Menaklukan Gembong Narkoba

Kenakalan remaja saat ini sudah sangat luar biasa. Para remaja banyak yang terlibat kasus narkoba. Pemulihan pecandu narkoba tidaklah mudah. Namun dengan ketulusan seorang guru berhasil menaklukan seorang murid pecandu sekaligus pengedar narkoba. Bagaimana kisah unik yang mengharu biru itu? Mari kita simak kisah berikut ini.

“Hati-hati mengajar di kelas 2C, bisa-bisa dikerjain habis-habisan.” Kata Wanti dengan nada geram. Mulutnya manyun menandakan kesal yang luar biasa.

            “Masa tadi aku ngomong, anak badung itu tidak mau sama sekali melihatku. Alih-alih memperhatikan malah sibuk cengengesan. Ihhh… pingin ngejambak rambutnya” lanjutnya lagi sambil menghempaskan tubuhnya di sofa.

            “Berapa orang yang nakal wan?” tanyaku, sambil duduk di samping Wanti yang masih emosi.

            “Yang nakal banget satu orang. Tapi dia suka mempengaruhi teman-temannya untuk ikut berbuat onar. Ya Ampun, aku sampai bingung mau ngomong apa tadi. Semua rencana pelajaran hari ini tidak tersampaikan.” Lanjut Wanti.

            “Sabar ya Wan, semoga ke depannya mereka lebih bisa dikendalikan. Anggap saja ini ujian berharga agar kita lebih memperbaiki persiapan mengajar.” Wanti hanya mendengus pelan, mungkin dia sedang berusaha mengendalikan emosinya.

            Sebagai mahasiswa yang sedang mengikuti praktik mengajar, apa yang dialami sama Wanti sangat tidak mengenakan. Kami yang sedang belajar untuk menjadi guru, memerlukan kondisi yang kondusif. Jika semua kelas seperti itu, bisa-bisa kami gagal dan harus mengulang praktik mengajar tahun depan.

            Dapat dikatakan kami kurang beruntung, karena mendapat sekolah swasta. Mayoritas murid-murid di sekolah ini memiliki nilai akhir yang kecil, sehingga tidak masuk sekolah negeri. Siswa yang memiliki minat belajar sungguh-sungguh, bisa dihitung dengan jari. Selebihnya, berangkat sekolah hanya main-main saja, ada juga hanya karena takut sama orang tua, bahkan ada juga yang datang ke sekolah tanpa tahu tujuannya mau apa.

            “Jangan macam-macam sama anak sini, mereka akrab dengan preman. Jadi kalau diusik preman akan ikut campur” begitu peringatan dari penjaga sekolah pada saat kami baru datang.

            “Cari aman sajalah, jangan macam-macam. Guru di sini juga sudah pada tahu” lanjutnya, dengan pandangan tajam.

            Aku membatin, mendengar penjelasan dari penjaga sekolah tersebut. Hatiku terasa diiris. Bukankah sekolah adalah tempat untuk mendidik anak, agar memiliki perilaku yang baik, punya masa depan yang cerah. Teori belajar mengajar yang sudah kudapat bersesakan di kepala. Saatnya kini untuk menerapkan teori-teori itu, tapi harus berhadapan dengan kondisi seperti ini.

            “Dulu ada guru yang sok tegas, anak yang nakal dihukum. Apa yang terjadi? Pulang dari sekolah, di tempat yang sepi guru itu disergap, nyaris nyawanya tidak tertolong.” Bapak penjaga sekolah melanjutkan ceritanya.

            Spontan kami bergidik mendengarnya.                                                                            

            Sesama teman seperjuangan, guru-guru PPL sepakat untuk mencari jalan aman. Bukannya kami tidak mau mendidik siswa dengan sebaik mungkin. Namun posisi kami yang masih belajar dan melaksanakan tugas akhir, menuntut kami untuk tidak terlalu terlibat dalam menghadapi kenakalan siswa. Kami hanya berusaha untuk menyelesaikan tugas mengajar dengan baik dan mendapat nilai yang baik.

            Kami berusaha untuk menjadi sahabat bagi semua siswa, sehingga mereka tidak canggung dengan kami. Cara ini cukup efektif untuk mengontrol emosi mereka. Walaupun tidak semua siswa bisa akrab dengan kami,  tapi lumayan mereka tidak mengganggu ketika kami mengajar di kelas. Siswa yang memang sangat nakal sangat sulit kami dekati. Salah satunya Rumanto ‘penguasa’ 2-C. Dia senantiasa memandang sinis pada kami.

 Berdasarkan pengakuan beberapa siswa, Rumanto merupakan salah satu pengedar narkoba di sekolah itu. Di sekolah, dialah gembongnya dan memiliki anak buah. Dia menjalin kerjasama dengan penjaga sekolah juga. Langganan Rumanto banyak juga di sekolah. Tak heran jika Rumanto bagaikan ‘raja kecil’ di sekolah, tidak ada yang berani mengusiknya, termasuk para guru.

Teman-teman perempuanku, sudah takluk di tangannya. Mereka memilih untuk tidak mengajar di kelas 2-C. Ada juga yang nekad mengajar di kelas 2-C, tapi hanya sampai separuh jalan. Dia menghambur keluar kelas sambil menangis. Penyebabnya, adalah Rumanto yang berbuat usil. Aku sendiri, tertantang untuk menaklukannya. Aku memutar otak, mencari jalan untuk menaklukan sang gembong.

            Tanpa terasa, hanya tinggal tiga minggu lagi, aku harus mengajar di kelas 2-C. Mau tidak mau harus berhadapan dengan sang gembong. Selain mempersiapkan materi sebaik mungkin, aku pun menyisihkan waktu untuk membaca buku-buku psikologi. Aku pikir, pasti ada cara untuk menaklukan anak nakal itu, dengan cara yang baik tentunya. Diam-diam, aku mengamati tingkah polah Rumanto.

            “Tuh itu orangnya, yang bibirnya monyong dan matanya belo.” Wanti berbisik di telingaku, ketika Rumanto berlalu di hadapan kami.

            Gayanya sangat khas, dadanya dibusungkan, dagunya diangkat. Persis kaya koboy jahat yang ada di film-film he…he..

            Tibalah waktunya, aku mengajar di kelas 2-C. Kelas yang paling mengerikan. Sebelum masuk kelas aku berdoa lama sekali. Aku memohon pertolongan dan kekuatan dari Allah swt.. Aku yakin Allah Maha Pemilik jiwa makhluk-makhluk-Nya, termasuk Rumanto. Aku memohon agar  hati Rumanto dilembutkan dan ia diberi hidayah.

            Setenang mungkin aku masuk ke ruang kelas. Selanjutnya aku mengedarkan pandangan, selain untuk menguasai audiens, juga untuk mengetahui keberadaan Rumanto. Dia duduk di bangku kedua, sejajar dengan meja guru.

            Pertemuan pertama di kelas 2-C, diawali dengan perkenalan. Setelah memperkenalkan diri, aku mulai membaca absen siswa. Setiap nama aku beri makna bebas, makna yang baik tentunya. Gelak tawa sesekali kali memenuhi ruangan kelas. Mereka sangat menikmati caraku berkenalan.

            Plok…Plak…Plok…

            Sang gembong mulai beraksi. Persis seperti kata teman-temanku. Dia memulai aksinya dengan menghentak-hentakan kakinya, kemudian melempar-lempar pinsil atau apa saja yang ada di tangannya. Aku berusaha menenangkan diri, agar tidak terpancing emosi.

            “Selanjutnya… wah namanya unik sekali. Pasti orangnya keren. RUMANTO, mana yang namanya Rumanto?” teriakku, sambil mengedarkan pandangan, pura-pura mencarinya.

            Rumanto mengacungkan tangannya dengan sumringah. Tampaknya, dia senang sekali mendapat pujian dariku.

            “Rumanto, artinya pemimpin lelaki yang membawa pembaharuan. Wah hebat ya… Rumanto ini calon pemimpin hebat…”

            Senyum Rumanto semakin lebar. Tangannya membetulkan krah bajunya, sambil mesem-mesem.

            Uuuhhhh… teman-temannya meneriaki Rumanto. Diantaranya ada juga yang mencibir dan buang muka.

            Rumanto tidak memperdulikan teriakan temannya, ia masih kelihatan bahagia sekali mendapat pujian dan sanjungan.

            “Maaf… boleh minta tolong? Siapa yang mau menghapus papan tulis?” pintaku setelah selesai mengabsen.

            Rumanto langsung berdiri dan berjalan ke arah papan tulis.

            “Tumben To, Lu rajin” ledek temannya

            “Calon pemimpin memang harus rajin dan bertanggung jawab” kataku sambil tersenyum.

            Ehem… ehem… ledek temannya lagi.

            “Terimakasih ya Rumanto” dengan senyumnya yang manis Rumanto menganggukkan kepalanya.

            Selanjutnya, proses belajar berjalan dengan tenang dan lancar. Rumanto mengikuti pelajaran dengan khusyu, bahkan dia pun menulis. Sengaja aku mendekatinya, tampak tulisannya rapih dan bukunya pun sangat rapih. Dia menulis di halaman pertama, berarti baru hari ini dia mau menulis.

            “Tulisannya bagus, Rumanto berbakat jadi penulis juga ya” kataku. Rumanto tersenyum lebih manis lagi.

            Aku sangat bersyukur, bisa menemukan cara untuk ‘menjinakkan’ Rumanto. Aku rasa, setiap orang ingin mendapat penghargaan dari orang lain. Bisa jadi, anak-anak menjadi nakal karena kurang dihargai. Bahkan, label sebagai anak nakal sudah terlanjur menempel dalam dirinya. Sehingga tidak ada keinginan untuk berubah menjadi baik.

            Rumanto, menjadi bukti. Anak yang selama ini bagaikan monster menakutkan bagi guru-guru PPL, bisa bersikap baik. Bahkan bisa diajak kerjasama. Aku semakin bersemangat untuk terus mengarahkan mereka ke arah yang lebih baik tanpa harus mengibarkan bendera perang. Sentuhlah hatinya dengan hati, itu prinsipku.

            Tanpa terasa, dua jam pelajaran pun berakhir. Aku keluar kelas dengan senyum bahagia. Teman-temanku sudah menunggu di ruang guru. Rupanya mereka menantikan kabar apa yang aku bawa. Mereka mengira aku akan terisak-isak keluar kelas.

            “Bagaimana? Lancar? Si Rumanto berulah tidak?” berondong Wanti, begitu aku sampai.

            “Alhamdulillah lancar…”

“Si Rumanto tidak ada?” tanya Wanti penasaran.

            “Ada…”

            Wanti mengernyitkan dahinya, begitu pun yang lainnya.

            “Terus?” tanya Aldi.

            “Terus apanya?” aku balik bertanya.

            “Terus bagaimana ceritanya, kamu bisa keluar kelas dengan tersenyum tidak seperti yang lain.”

            “Oh… ya biasa aja, aku mengajar seperti biasa”

            “Gimana caranya dia bisa jinak?” tanya Wanti dengan penasaran level 10.

            Aku akhirnya bercerita pengalaman mengajar di kelas 2-C. Semua mendengarkan dengan penuh takjub.

            “Jadi kesimpulannya, selalu ada jalan keluar dan anak nakal bisa jadi anak baik, asal diperlakukan dengan baik” pungkasku, diaminkan yang lain.

            Selanjutnya, aku bisa mengajar di kelas 2-C dengan lancar. Rumanto menunjukan sikap yang sangat baik, selama aku di kelas. Dia kelihatan sangat antusias dalam belajar. Ketika diadakan diskusi, Rumanto terlibat aktif. Dia tidak menghiraukan sikap beberapa temannya yang terus meledek. Mungkin bagi teman-temannya, sangat janggal melihat Rumanto aktif belajar dan diskusi.

            Tibalah saatnya, diadakan ulangan harian. Semua mengikuti dengan baik, tidak ada seorang pun yang berusaha mencontek atau kerjasama. Termasuk Rumanto. Hatiku geli, melihat mimiknya yang super serius.

            Tanpa kuduga, Rumanto mendapat nilai tertinggi. Di balik kertas ulangannya, kutulis sebait puisi

            Nak…

            Jalanmu masih sangat panjang

            Songsong masa depanmu

            Tegapkan langkahmu

            Jangan sia-siakan masa mudamu

            Pastikan masa depan ada dalam genggammu

            Raih cita dan impian

            Buktikan pada dunia

            Bahwa kamu ada

            Rumanto bersorak gembira menerima kertas ulangannya. Selama perjalanannya sebagai pelajar, baru kali ini ia mendapat nilai tertinggi. Kesempatan emas ini tidak aku sia-siakan. Kusampaikan bahwa ketika kita berusaha keras, pasti akan mendapatkan hasil yang memuaskan.

            Keberhasilan Rumanto menjadi inspirasi bagi teman-temannya. Mereka tampak belajar semakin serius. Betul kata orang, kalau sudah kepegang ‘kepala sukunya’, anak buahnya akan mengikuti jejaknya.

            Sejak mendapat nilai ulangan tertinggi, terjadi perubahan besar pada diri Rumanto. Dia berhenti sama sekali menjadi pengedar narkoba. Dia bercerita, selama ini mengedarkan narkoba ke beberapa sekolah. Dia menjadi gembong kecil-kecilan. Mirisnya, yang memperkenalkan dunia hitam padanya adalah pamannya sendiri. Setiap hari ia mendapat keuntungan sekitar 500 ribu. Uang segitu untuk ukuran saat itu sangatlah banyak.  Uang sebanyak itu ia habiskan untuk berfoya-foya, tanpa sisa sepeser pun.

            Beberapa hari kemudian, kudapati Rumanto membawa tas plastik hitam. Ternyata dia berjualan sandal. Beberapa guru dan teman-temannya membeli jualan Rumanto. Rupanya anak itu punya jiwa bisnis. Aku salut, dia tidak gengsi berjualan di usia mudanya. Aku acungkan jempol ke arahnya, disambut senyumnya yang ceria.

            Perubahan Rumanto, tidak berhenti sampai disitu. Pembawaannya, menjadi lebih sopan. Setiap bertemu guru, dia menganggukan kepala dan tersenyum. Jauuuuhh sekali dari sikapnya yang dulu. Bahkan seringkali aku mendapati, ia sedang sholat di mushola sekolah. Tanpa terasa air mataku berderai, menyaksikan ia sujud dengan khusyunya.

            Subhanallah, ketika Allah berkehendak untuk memberi hidayah pada hamba-Nya, maka tidak ada yang tidak mungkin baginya untuk bertobat. Dalam doa, kupanjatkan supaya Rumanto dan teman-temannya istiqomah dalam menjalankan kebenaran.

Bagaimana kisah Rumanto selanjutnya? apakah Rumanto bisa bertahan menjadi anak baik atau sebaliknya, kembali menjadi gembong narkoba? Silakan ikuti kisahnya di sini.

            Bisa dibaca juga kisah inspiratif penggugah jiwa.