Guru Terpaksa Menjadi TKI

Menjadi guru adalah sebuah cita-cita mulia. Profesi ini tidak menjanjikan taburan materi yang berlimpah. Menjadi guru adalah panggilan jiwa untuk mengabdi, mendidik generasi penerus yang akan melanjutkan kehidupan ini. Kehidupan guru tidak selamanya indah, seperti yang dialami oleh seorang guru honorer. Ia terpaksa meninggalkan profesinya sebagai guru. Kondisi anak yang sakit-sakitan memaksanya untuk menjadi TKI, profesi yang jauh dari angannya.

Bagaimana kisah lengkapnya?

Suasana di ruang guru, hari ini sedikit berbeda. Mayoritas guru berkumpul di sini. Hanya beberapa orang yang tidak bisa hadir. Kami tidak banyak bercerita satu sama lain. Masing-masing asyik dengan pikiran masing-masing.

Aku duduk di sudut sofa. Setumpuk kertas ulangan ada di pangkuanku. Aku sedang memeriksa ulangan harian. Di sampingku, Bu Laras yang biasanya cerewet, mendadak pendiam. Dia asyik mengutak-atik rumus matematika.

Sesekali Pak Fauzi, staf tata usaha memandang kami. Dia sedang tidak ada pekerjaan. Wajahnya muram, tidak seperti biasanya, yang selalu ceria. Bapak kepala sekolah, masih semedi di ruangan kecilnya, entah apa yang sedang dilakukannya.

Pak Heri asyik dengan TTSnya, sesekali tersenyum, kadang tertawa sendiri, ihh serem he..he… Bu Hasanah yang anggun, duduk di samping Bu Laras. Guru tertua di sekolah kami ini sedang memeriksa hasil ulangan. Sedangkan Pak Rudi dan Pak Cahya sedang asyik ngobrol, keduanya mojok dekat lemari besar.

Tiba-tiba, pintu ruang kepala sekolah berderit, menandakan di buka. Bapak kepala sekolah keluar, memandang kami, kemudian masuk lagi. Tanpa sengaja aku dan Pak Fauzi berpandangan. Aku memberi isyarat mengangkat dagu, Pak Fauzi menjawab dengan mengangkat bahu. Kemudian aku menyikut Bu Laras, dia melirik sebentar lalu menggeleng. Kami sepertinya kompak. Malas membuka mulut, lebih asyik memberi isyarat dengan bahasa tubuh. Haduh repot juga ya kalau selamanya menggunakan bahasa isyarat. Tapi hari ini memang beda. Energi kami seolah berkurang.

“Assalamu’alaikum …” Seorang pria berbadan tegap mengetuk pintu. Wajahnya bersih, rambutnya kelimis. Kami serempak menjawab salamnya. Dan kami pun kompak memandangnya, nyaris tanpa berkedip.

Pria itu adalah salah seorang guru di sekolah ini. Guru hebat yang pernah kami miliki. Terkenal sangat pandai dan diidolakan anak-anak. Mengajar dengan cinta dan tanpa marah, itulah mottonya. Wajahnya yang manis, dipermanis dengan sikapnya yang sopan. Kami semua menyayanginya. Namun hari ini, semua manis yang melekat dalam dirinya terasa hambar.

“Eh Pak Chaerul, mari masuk sudah ditunggu-tunggu nih …” Seru Pak Cahya, menyambut, sambil berdiri.

Pak Chaerul bersalaman dengan semua guru pria. Kebiasaan kami, setiap bertemu bersalaman. Aku dan Bu Laras masih pura-pura sibuk.

“Ibu-ibu, bagaimana kabarnya?”  Seperti biasa, Pak Chaerul menyapa kami dengan manis.

“Alhamdulillah baik …” Jawab Bu Hasanah, sambil menghentikan pekerjaannya. Aku dan Bu Laras tersenyum dan mengangguk. Rupanya energi untuk bicara masih kurang.

“Bagaimana kabar si kecil?” Tanya Pak Rudi.

“Masih dalam pengobatan …” Jawabnya singkat. Bayi mungil Pak Chaerul menderita sakit radang paru-paru. Sehingga rutin harus berobat. Hal inilah yang menyulitkan kehidupan Pak Chaerul. Mereka bukan hanya harus menyiapkan dana lebih untuk membeli obat, tapi juga untuk ongkos ke rumah sakit yang ada di kota.

Tak lama kemudian, bapak kepala sekolah pun keluar dari ruangannya. Beliau duduk untuk memimpin acara hari ini. Acara yang sebenarnya sangat tidak aku sukai, yaitu perpisahan. Pak Chaerul mau berhenti mengajar di sekolah kami …

“Baiklah, bapa-bapa dan ibu-ibu, hari ini adalah hari istimewa …” Bapak kepala sekolah mulai berbicara.

“Sebagaimana yang kita ketahui, salah seorang teman kita, saudara kita, akan pergi meninggalkan kita …” Bapak kepala sekolah menghentikan bicaranya. Beliau menarik napas dalam-dalam. Mungkin beliau pun merasakan hal yang sama dengan kami, berat ditinggal Pak Chaerul.

“Terus terang saja, hal ini sangat berat untuk saya. Tapi saya pun tidak berhak untuk mencegah …” Bapak kepala sekolah mengedarkan pandangannya. Kami semua membisu. Semua menyimak dengan seksama.

“Jasa Pak Chaerul di sekolah ini luar biasa, saya mengucapkan banyak terimakasih. Saya pribadi tidak bisa membalas semua amal baik Pak Chaerul, hanya Allah swt. yang bisa membalasnya.” Lanjut bapak kepala sekolah.

Kulihat Pak Chaerul menunduk, berusaha menyembunyikan kesedihannya. Semua guru di sini sudah seperti keluarga sendiri. Kami akrab satu sama lain, sepenanggungan dan saling membantu jika ada kesulitan.

“Pak Chaerul, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya, jika selama di sini ada sikap dan ucap saya yang kurang berkenan.” Pak Chaerul menganggukkan kepalanya.

“Kami doakan semoga Pak Chaerul sekeluarga diberi limpahan rezeki dan kesehatan. Dan di tempat kerja baru nanti diberi kesuksesan …”

“Amin …” Kami serempak mengaminkan doa bapak kepala sekolah.

Setelah bapak kepala sekolah selesai memberi kata sambutan, sekaligus pelepasan, kemudian giliran Pak Chaerul yang berbicara. Suasana semakin hening, kami seolah menahan napas. Pak Chaerul tidak langsung memulai pembicaraannya. Beliau terdiam untuk beberapa saat, beberapa kali ia menarik napas dalam-dalam.

Setelah hening untuk beberapa saat, akhirnya Pak Chaerul bicara juga. “Teman-teman yang saya cintai, terus terang ini berat untuk saya …” Pak Chaerul kembali terdiam.

“Saya mencintai pekerjaan sebagai guru. Guru adalah cita-cita saya sejak kecil. Bukan hanya cita-cita saya, tapi juga cita-cita kedua orangtua saya …” Pak Chaerul kembali terdiam.

“Jika bagi sebagian orang, menjadi guru adalah pengalihan dari cita-cita lain yang tidak tercapai. Tapi bagi saya, menjadi guru adalah cita-cita utama…” Lanjut Pak Chaerul. Kami dengan seksama mendengarkan.

“Dan tidak mudah bagi saya untuk meraih cita-cita ini. Pengorbanan orangtua sangat besar dalam mewujudkan cita-cita saya …”

“Tapi … jalan hidup kita tidak selamanya lapang, sesekali ada duri yang harus kita lewati. Saat ini saya sedang diuji. Kalau saya bertahan di sini, bagaimana nasib anak saya?” Pak Chaerul seolah bertanya pada dirinya sendiri. Pertanyaan yang menohok uluhati kami. Selama ini ia tidak pernah berkeluh kesah tentang beban hidupnya. Ia selalu tampil cool tanpa beban. Kami pun hanya membantu sekedarnya. Kuberanikan diri mengangkat wajah dan memandang Pak Chaerul. Tampak wajahnya berbeda, begitu tegang. Aku tidak pernah mengira, keputusannya ini menyebabkan tekanan yang hebat untuk dirinya.

Aku malu sendiri, sempat tersirat dalam pikiranku, Pak Chaerul dengan mudahnya meninggalkan sekolah. Tapi dugaanku meleset jauh. Pak Chaerul begitu tertekan. Aku tidak berani memandang lebih lama. Ada hangat yang menyentak dari sudut-sudut mataku. Aku berusaha membendungnya dengan menunduk lebih dalam.

“Pada kesempatan ini, berikanlah kesempatan pada saya untuk meminta maaf. Saya minta maaf pada semua, jika dalam pergaulan kita ada kata dan sikap yang tidak baik dari saya. Mohon diikhlaskan makanan dan minuman yang termakan oleh saya. Jika ada utang piutang mari kita selesaikan. Saya ucapkan ribuan terimakasih pada teman-teman semua. Saya sudah diperlakukan dengan baik, mendapat ilmu dari teman-teman. Semua itu tidak bisa saya balas. Sekali lagi saya ucapkan terimakasih …” Pak Chaerul menutup pembicaraannya.

Selanjutnya, diberikan kenang-kenangan dari bapak kepala sekolah. Hidangan yang sudah dipesan pun sudah sampai. Kami menikmati hidangan dengan hati yang masih tidak menentu. Terlihat Pak Chaerul masih menyimpan duka mendalam.

“Jadi berangkatnya kapan Pak?” Tanya Pak Heri, membuka obrolan.

“Kalau tidak ada halangan, senin depan, Pak…” Jawab Pak Chaerul.

“Lewat PJTKI?” Tanya Pak Heri lagi.

“Iya …” Jawab Pak Chaerul singkat.

“Di sana mengajar di sekolah apa Pak?” Pak Heri kembali bertanya.

Uhuk … uhuk … terdengar Pak Chaerul batuk kecil. Kemudian ia meminum air putih. Sejurus kemudian Pak Chaerul memandang Pak Heri, lalu tersenyum hambar.

“Saya tidak bisa menjadi guru di sana Pak. Katanya tidak dibuka lagi lowongan guru dari luar negeri.” Pak Heri manggut-manggut mendengar jawaban Pak Chaerul.

“Lalu … Pak Chaerul kerja apa di Malaysia?” Tanya Pak Saeful, ikut nimbrung.

Pak Chaerul tidak langsung menjawab. Ia memasukan suapan terakhir ke mulutnya, kemudian minum air putih. Lalu menarik napas dalam-dalam.

“Saya kerja di kebun sawit …” Sontak semua memandang Pak Chaerul, terkejut.

Jadi, jauh-jauh Pak Chaerul kerja di Malaysia dan meninggalkan pekerjaan di sini, hanya kerja di kebun sawit. Pikirku.

“Oh … ada saudara yang sudah bekerja di sana ya, Pak?” Tanya Pak Heri lagi.

“Iya paman saya, sudah lama kerja di sana. Kalau kerja di kebun lowongannya banyak.” Jawab Pak Chaerul, menjelaskan.

“Waduh kalau kerja di kebun ya sayang ilmunya, Pak …” Tiba-tiba Bu Halimah ikut menimpali.

Mendengar perkataan Bu Halimah, Pak Chaerul tersenyum kecil. “Iya sih Bu, tapi gimana lagi. Keadaan memaksa saya.” Jawab Pak Chaerul dengan nada sedih.

Aku dan Bu Laras hanya berpandangan, lidah terasa kelu untuk berbicara. Aku sangat memahami posisi Pak Chaerul. Sebagai kepala rumah tangga, ia harus menafkahi keluarganya. Apalagi anak semata wayangnya sakit-sakitan. Gaji dari sekolah sangat kecil, tidak cukup untuk menafkahi keluarganya. Pilihan terberat pun harus dia ambil. Siapa orangnya yang mau berjauhan dengan keluarga? Meninggalkan anak dan istri, apalagi anaknya sedang sakit. Saya yakin Pak Chaerul sudah menempuh pergulatan batin yang panjang, sehingga kemudian mengambil keputusan untuk bekerja di negeri orang.

“Semoga kerja keras Pak Chaerul membuahkan hasil ya …” Kata Bu Halimah, menghibur.

“Amin … Terimakasih Bu.” Jawab Pak Chaerul sambil tersenyum.

“Pak Chaerul, kalau nanti sudah kembali lagi ke sini, kami tetap menerima Pak Chaerul untuk kembali mengajar di sini.” Kata bapak kepala sekolah.

“Terimakasih banyak Pak, atas kesempatan yang selalu diberikan untuk saya. Mudah-mudahan saya cepat kembali ke tanah air.” Sambut Pak Chaerul.

“Rencananya berapa lama di sana?” Tanya Pak Heri.

“Kontraknya tiga tahun, saya belum tahu mau menghabiskan kontrak atau tidak. Tergantung kondisi di sana.” Jawab Pak Chaerul.

Setelah acara ramah tamah selesai, Pak Chaerul berpamitan. Dengan berat hati ia meninggalkan sekolah. Kami mengantar sampai halaman. Pak Chaerul memandang kami bergantian. Gurat sedih tergambar jelas di wajahnya.

Kami merasa kehilangan sesuatu yang menjadi bagian dari hidup kami. Kami satu nasib, satu perjuangan dan satu cita-cita. Kini harus berpisah, rasanya teramat berat. Butiran hangat yang sejak tadi berhasil kubendung, kini kubiarkan mengalir mencari muaranya.

Kami tidak terus memandangi sosok Pak Chaerul sampai sosoknya menghilang di tikungan jalan.  Aku dan Bu Laras berpamitan pulang. Kami berdua melangkah menyusuri jalan berdebu. Tidak ada kata yang terucap, kami sama-sama meredam gejolak yang mendera batin.