Berjuang Melawan Kanker

Apa rasanya ketika divonis mengidap kanker? Bumi rasanya kiamat. Begitulah yang dirasakan seorang ibu dari tiga orang anak. Saya mengenalnya dari komunitas menulis. Menurut ceritanya, ia tidak pernah mengira di tubuhnya bersarang kanker, karena tidak merasakan gejala mencurigakan. Yuni, panggilan bagi Tri Wahyuni Zuhri, awalnya merasakan sakit pinggang. Akibat berbagai kesibukan ia pun mengabaikan sakit di pinggang itu. Yuni menganggap sakit biasa karena salah duduk atau terlalu lama duduk. Kemudian, Yuni pun memanggil tukang urut untuk memijat pinggangnya. Sakit pinggang pun berangsur hilang. Namun, beberapa hari kemudian terasa sakit lagi. 

Melihat kondisi Yuni yang kerap merasakan sakit pinggang, sang mamah pun akhirnya memaksa Yuni untuk memeriksakan diri ke dokter. Setelah berkonsultasi dan mencoba berbagai gerakan sederhana sesuai instruksi, seperti jongkok, berjinjit, rukuk,  Dokter Yasser meminta saya untuk CT Scan tulang belakang.

Hasil CT Scan sangat mengejutkan, beberapa lumbal tulang belakang Yuni rusak, bahkan ada pula yang hilang. Dari situlah dokter meminta Yuni untuk pemeriksaan lanjutan. Pada kesempatan itu pula Yuni menyampaikan   memiliki benjolam kecil di leher yang baru-baru muncul.

Mulailah berbagai pemeriksaan dilakukan, dari cek darah, romtagen paru hingga biopsi benjolan di leher. Hasil biopsi lebih mengejutkan. Yuni divonis kanker tiroid.  Ternyata tulang belakang yang tidak cantik lagi itu, disebabkan oleh metase atau penyebaran kanker tiroid.

Yuni pun limbung menerima vonis menyakitkan itu. Terbayang wajah ketiga buah hati yang masih memerlukan asuhannya. Kematian sudah dekat, itulah bayangan yang terus bermain dalam benaknya. Beruntunglah suami, anak-anaknya, dan keluarga besar terus memberi dukungan. Berangsur harapan Yuni kembali. Yuni bangkit dari keterpurukan. Yuni bertekad dalam dirinya, harus sembuh. Kemudian Yuni berusaha untuk mengumpulkan informasi selengkap mungkin tentang kanker terutama kanker tiroid. Dengan sabar Yuni mengikuti serangkaian pengobatan sambil merasakan sakit yang luar biasa. Akibat penyakit ini, Yuni merasakan mudah capek, lemas, dan sakit di beberapa bagian tubuhnya.

Yuni terpaksa menghabiskan waktu di atas tempat tidur. Untuk mengisi waktu, Yuni menulis artikel di Hp. Ketika tubuhnya terasa lebih sehat, tulisan itu dipindahkan ke komputer. Dari kegigihannya ini, beberapa tulisannya dimuat di berbagai media. Bahkan, salah satu tabloid menayangkan secara berkala tulisan Yuni. Dengan aktifitas menulis ini, hati Yuni lebih ringan dan tenang, hal ini membantu memulihkan kondisi badannya.

Kini Yuni masih terus berjuang melawan kanker. Penderitaannya ini tidak menjadikannya patah semangat dan berputus asa. Yuni terus berkaya melalui tulisan, bahkan tulisannya sudah diterbitkan dalam bentuk buku. Yuni ingin berbagi tentang kanker, agar orang lain bisa lebih perhatian terhadap kesehatan dan bisa melakukan upaya pencegahan kanker.

Selain menulis, Yuni pun sering diundang mengisi seminar dan pelatihan tentang kanker. Dengan cara seperti ini Yuni berusaha untuk membagikan ilmu dan pengalamannya kepada orang banyak. Harapan Yuni, semakin meningkat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan diri dan keluarganya.