Dahsyatnya Amanat Bapak

“Apa yang bisa kamu berikan untuk bangsa ini?”

Suara serak itu langsung saya dengar, bukan suara Bung Karno tentunya. Tapi suara laki-laki sederhana di depan saya, Bapak. Bapak keberatan ketika saya izin untuk pindah kerja ke sekolah yang berada di kota besar dengan gaji yang jauh lebih besar dan fasilitas yang sangat modern. Untuk menjadi guru di sekolah itu, harus melalui seleksi yang sangat ketat. Beruntung saya tidak perlu mengikuti seleksi dan langsung dipersilakan mengajar, karena menggantikan seorang teman yang pindah ke luar daerah.

“Pak…saya ingin punya mengalaman mengajar di kota besar, di sekolah yang modern,“ saya berusaha membujuk  bapak agar mendapatkan izin.

“Apa bedanya mengajar di sini dengan di kota?” tanya bapak sambil menyeruput kopi kental kesukaannya.

“Ya jelas beda Pak, di sana sarananya lengkap dan muridnya pun berbeda.”

Bapak manggut-manggut sambil memandangku, kemudian beliau membetulkan posisi duduknya. Bapak memandangku, lalu tersenyum.

“Bapak jadi ingat waktu kamu masih kecil, setiap ditanya mau jadi apa kalau sudah besar? Jawabannya hanya satu, ingin jadi guru,” kata bapak, kedua matanya memandang jauh ke luar jendela.

“Bapak bangga sama kamu, sangat bangga,” ucap bapak sambil menghela napas panjang.

“Guru adalah pekerjaan mulia, abdi masyarakat.”

“Di kota juga aku tetap menjadi guru…,” timpalku.

“Tapi beda, Nak, …jauh berbeda.”

 Bapak kembali memandangku. Aku mengernyitkan dahi, lalu bertanya “Apa bedanya, Pak?”

Bapak tersenyum, senyum yang khas dan menyejukkan hati. Senyum yang dipenuhi rasa cinta yang mendalam.

“Di sini, kamu lebih dibutuhkan daripada di kota. Di sini, tidak banyak orang yang mau mengabdi. Tapi di kota, banyak orang yang mau,” lanjut Bapak dengan tegas.

 Kembali saya harus berhadapan dengan prinsip Bapak yang keras, sekali tidak tetap tidak! Saat itu saya sangat tidak mengerti dengan jalan pikiran Bapak. Bukan hanya saya, tapi juga ibu dan kakak saya.  Mengajar di sekolah elit, tentunya saya akan mendapat gaji yang lebih besar dibandingkan mengajar di sekolah kampung dengan fasilitas yang sangat minim.

Dengan mengajar di sekolah elit, nantinya saya bisa membantu ekonomi keluarga. Saya sangat ingin membantu orang tua dengan keringat saya sendiri, karena mereka sudah susah payah menyekolahkan saya sampai perguruan tinggi.

“Tapi Pak…kalau saya mengajar di kota, gajinya lebih besar,” aku merajuk. Namun, Bapak tetap bersikukuh pada pendiriannya.

“Bapak menyekolahkan kalian bukan untuk cari uang. Tapi supaya kalian pintar, berbudi pekerti luhur, dan bermanfaat untuk masyarakat dan bangsa.”

Suara bapak terdengar lirih, tapi menusuk jantung kami. Oh bapak, laki-laki sederhana ini punya cita-cita begitu tinggi.

“Selama tangan bapak terbuka lebar, jangan khawatir masalah uang! Bapak masih bisa bekerja mencukupi kebutuhan kalian,” lanjutnya lagi.

“Mengabdilah pada bangsa dan negara, cintailah rakyat kecil yang membutuhkan pertolongan kalian! Insya Allah kalian akan mendapat kehidupan yang berkah.”

Kata-kata bapak terus terngiang di telinga saya, menggelorakan semangat saya untuk terus melangkah dengan meniti jalan sebagai guru honorer di sekolah yang sangat sederhana, di kaki gunung di daerah Ciwidey. Bangunannya sudah sangat tua, dengan dinding retak di beberapa bagian, atapnya pun bocor, sehingga kalau hujan besar kegiatan belajar dihentikan. Saya mengajar full 5 hari dengan memegang tiga mata pelajaran sekaligus, gajinya tidak sampai 100 ribu. Untuk ongkos, sering dibantu Bapak. Bahkan pemberian Bapak jauh lebih besar, anggap saja gaji tambahan katanya. Kalau sudah akhir bulan, ongkos sudah habis. Terpaksa berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki kira-kira 4 km.

Di sekolah kampung ini, saya memang tidak mendapatkan gaji yang besar. Namun, saya mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga dari materi. Di sini, saya bertemu dengan orang-orang berhati malaikat, yang rela berkorban demi kecintaannya pada tanah air.

Di sekolah ini juga, saya bertemu dengan generasi muda penerus bangsa yang luar biasa. Mereka adalah murid-muridku yang senantiasa semangat belajar, walaupun dengan fasilitas belajar yang sangat minim. Di antara mereka ada yang harus menempuh perjalanan dua jam dengan berjalan kaki menuju sekolah.

Selain mengajar di sekolah, aku pun membuka bimbingan belajar gratis di rumah. Teras rumah yang lapang disulap menjadi kelas yang menyenangkan. Bapak sangat mendukung. Beliau membantu dalam menyiapkan perlengkapan yang diperlukan. Jadilah setiap sore rumah kami ramai dengan suara anak-anak yang belajar. Bapak tampak bahagia, seringkali beliau membagikan makanan ringan untuk murid-muridku.

Kisah kakak saya lebih seru lagi. Dia mendapat tugas dari Bapak untuk menjadi guru di kampung halamannya, di Cianjur selatan. Kakak hampir menangis menghadapi medan yang sangat berat. Untuk sampai ke sekolah, ia harus berjalan selama 2 jam dalam jalan setapak yang berlumpur dan mendaki. Jadilah bapak guru ini ke sekolah tanpa alas kaki, apalagi sepatu mengilap. Gajinya jauh lebih kecil dari Saya, hanya 20 ribu. Setiap minggu, kakak pulang untuk membawa bekalan makanan, karena tempat tugasnya sangat terpencil. Setiap pulang, warna kulitnya tambah tua digarang matahari.

Di tempat tugasnya, kakak dipanggil ‘juragan guru’. Di kampung tersebut, guru sangat dihargai oleh masyarakat dan dipatuhi. Setiap kakak mengeluh dan minta berhenti, bapak selalu menghibur.

“Kapan lagi kita mengabdi untuk negara? Mumpung masih muda, masih kuat, dan masih ada umur”.

Dilanjutkan dengan kisahnya di masa perjuangan dulu yang penuh heroik. Ternyata, sejak muda bapak terobsesi semua anaknya untuk menjadi guru. Dalam pandangannya, guru merupakan profesi yang sangat mulia dan pahlawan masa kini. Bapak sangat ingin anak-anaknya jadi pahlawan yang berkorban untuk tanah air, tanpa harus memanggul senjata seperti di masanya dulu.

Cita-cita bapak yang luhur sedikit banyak membentuk karakter anak-anaknya. Kami semua meniti sekolah dari jenjang paling rendah sampai jenjang tinggi dengan kesederhanaan. Jarang sekali kami punya buku paket yang harganya sangat mahal, begitu pun alat-alat sekolah lainnya. Kalau sepatu sobek, tidak perlu beli yang baru, cukup dengan menambalnya. Masih ingat dengan jelas, kami selalu dibelikan sepatu dua nomor lebih besar dari ukuran kami, supaya sepatu itu bisa lama kami pakai.

Ketika kuliah di kota besar, saya belajar mencari tambahan uang sendiri. Dengan menjual baju-baju dan membuat kerajinan tangan, hasilnya dipakai untuk membeli buku pelajaran atau biaya tambahan. Saya tidak ingin menambah beban orang tua dengan meminta biaya tambahan untuk buku dan lain sebagainya. Begitu juga dengan adik saya, dia kuliah sambil menjual makanan. Kami sangat menyadari kalau keberadaan kami di sekolah bukan untuk bersenang-senang.

Alhamdulilah, cita-cita bapak terwujud. Ketiga anaknya berhasil dihantarkannya jadi seorang guru. Dengan pengorbanan yang sangat luar biasa, kami sadar Bapak menyekolahkan kami bukan karena mampu, tapi karena memaksakan diri. Bapak hanya seorang sopir dengan gaji tidak seberapa. Setiap hari pulang larut malam dengan keringat bercucuran. Seringkali Bapak pun mendapat ejekan dari teman-temannya yang menganggap cita-citanya berlebihan.

Adik nomor tiga mengikuti jejak kakak-kakaknya, menjadi guru juga. Bahkan, ia membuat lompatan besar. Adik mendirikan Taman Kanak-Kanak untuk kaum duafa. Dengan sarana seadanya, ia membuka sekolah yang ditujukan untuk masyarakat yang tidak mampu. Terobosan adik ini mendapat sambutan dari masyarakat luas. Muridnya semakin bertambah banyak, hingga mencapai di atas 100 orang.

Sayang, Bapak tidak sempat menyaksikan ini. Namun saya yakin, Bapak pasti bahagia melihat anak-anaknya menebar kebaikan bagi sesama. Terima kasih Bapak, atas segala cita dan harapannya. Semoga segala pengorbananmu tidak sia-sia. Kecintaanmu pada negeri ini akan kami warisi.