Juragan Ayam Berhati Emas | Keluarga Harmonis

Bapak pernah bilang, bahwa di dunia ini masih banyak orang yang berhati baik. Orang yang mau menolong sesamanya tanpa pamrih. Aku mendapat pengalaman itu ketika mulai kuliah di kota, jauh dari keluarga. Alhamdulillah aku berhasil menembus perguruan tinggi negri favorit di kotaku melalui UMPTN.

 Seminggu setelah pengumuman  aku harus kembali ke kampus untuk mengikuti persiapan masa orientasi. Masa orientasi akan dimulai tiga hari ke depan, mulai pukul 05.00 sampai 18.00 WIB, selama dua minggu penuh. Berdasarkan jarak dari rumah ke kampus, sangat tidak mungkin kalau harus bolak-balik tiap hari. Mau tidak mau hari cari rumah kontrakan. Aku sangat bingung, hendak mencari kemana? Tidak tahu daerah sekitar kampus dan tidak pegang uang untuk bayar kontrakan.

Di tengah kebingungan itu, aku bertemu dengan sahabatku di SMA. Dia diterima di perguruan tinggi yang sama. Akhirnya kami dengan ditemani oleh seorang teman bapaknya, mencari kos-kosan. Setelah keliling di sekitar gang-gang perkampungan kampus, tibalah kami di sebuah rumah besar. Pemiliknya terkenal sebagai juragan ayam dan juragan kos-kosan. Beliau memiliki puluhan kamar untuk disewakan. Kebetulan teman bapak sahabatku itu kenal baik dengan beliau, yang terkenal dengan sebutan Amih. Kami diterima dengan sangat baik, bahkan kami sampai disuguhi makan dan minum oleh Amih. Aku sangat terkesan dengan kebaikan hatinya.

Amih memiliki puluhan kamar dan beberapa rumah yang disewakan. Namun sayang saat itu semua kamar untuk putri sudah terisi penuh. Mendengar penuturan Amih, kami kaget karena hanya Amih satu-satunya harapan kami. Dalam waktu yang sangat singkat jelas sangat sulit untuk mendapatkan kamar kontrakan, apalagi di musim penerimaan mahasiswa baru. Aku bingung sekali, tidak harus berbuat apa.

Di tengah keheningan kami yang kebingungan, Amih mohon diri mau ke belakang sebentar. Tak lama kemudian menemui kembali dengan senyum tersungging di wajahnya yang lembut.

“Alhamdulillah, anak Amih bisa dibujuk. Untuk sementara kalian bisa menempati kamarnya,“ ujar Amih dengan wajah berseri-seri.

“Alhamdulillah…,” ucap kami serentak.

 Selama masa orientasi kami menumpang di rumah Amih dengan gratis. AMih tidak mau menerima uang sewa yang kami berikan. Kebaikan Amih tidak hanya sampai disitu. Sejak kami tinggal di rumahnya, setiap pagi Amih menyiapkan air panas untuk membuat susu. Bahkan seringkali kami dibuatkan sarapan pagi. Sungguh aku sangat terharu menerima segala kebaikan Amih.

Aku hanya dibekali untuk biaya makan saja, padahal selama masa orientasi (plonco) hampir tiap hari disuruh membeli barang atau makanan. Belum seminggu uangku sudah habis, padahal rumahku jauh.

Meminjam pada teman-temanku sangat tidak mungkin. Mereka pun memiliki uang yang terbatas. Aku hanya memiliki satu-satunya barang yang berharga yang bisa dijual yaitu cincin. Aku pun memberanikan diri bertanya kepada Amih, letak toko emas. Alih-alih menunjukan toko emas, Amih malah memberi uang kepadaku. Walaupun aku sangat malu, uang pemberian Amih kuterima juga. Aku berjanji untuk secepatnya membayar. Ketika sudah mendapat kiriman uang dari orangtua, aku langsung membayar, diluar dugaan Amih menolaknya. Ternyata Amih memberi uang kepadaku, bukan meminjamkan. 

Subhanallah aku sangat terharu dengan segala kebaikan Amih. Di zaman modern sekarang ini, sangat sulit menemui sosok seperti Amih. Semoga Amih senantiasa diberi kelancaran rezeki dan diberikan husnul khotimah.