Kisah Ghalya Ahmad Abu-Ridha

Ghalya Ahmad Abu-Ridha tiba-tiba namanya menjadi pembicaraan banyak orang. Wanita malang ini mengalami peristiwa yang sangat tragis. Ghalya adalah salah seorang rakyat Palestina. Ghalya Ahmad Abu-Ridha tinggal di daerah Khuza’a di timur Khan Younis.

Pada musim panas lalu Israel melakukan agresi militer ke kawasan Palestina. Daerah yang pertama kali menjadi sasaran agresi militer Israel adalah Khuza’a. Penduduk Khuza’a serta merta melarikan diri menjauh dari kampung halamannya. Kecuali Ghalya Ahmad Abu-Ridha. Ia memutuskan diri untuk tetap bertahan di rumahnya. Ghalya punya alasan kuat. Menurutnya, usia yang sudah tua dan sakit yang dideritanya akan menjadi penghalang dari sasaran serdadu Israel yang terkenal sangat ganas.

Wanita berumur 74 tahun itu tinggal seorang diri di rumahnya. Ghilya tidak memiliki anak. Ia tinggal di satu desa bersama saudara-saudaranya. Ketika agresi militer terjadi Ghilya hanya seorang diri di dalam rumah. Wanita tunanetra itu tidak ikut serta bersama saudaranya untuk mengungsi.

Benar saja, desa tempat tinggal Ghalya diserbu oleh pasukan Israel secara membabi buta. Ghalya sembunyi di dalam rumahnya dengan penuh ketakutan. Tak ada seorang pun yang datang menyelamatkan Ghalya. Wanita tua terus berlindung di balik dinding rumahnya sambil tak henti merapal doa.

Setelah puas menghujani kampung Khuza’a dengan timah panas, tentara Israel terus merangsek masuk. Memeriksa setiap rumah yang masih kokoh berdiri, termasuk rumah Ghalya.Keberadaan  Ghalya dengan mudah diketahui tentara Israel. Wanita yang dilahirkan tahun 1941 itu pun digiring ke luar rumah. Seorang tentara Israel meraih air minum, kemudian diberikan kepada Ghalya. Tentara Israel meminta seorang temannya untuk memotret adegan dia memberi minum pada Ghalya. Setelah selesai minum, tentara Israel itu mundur satu meter, kemudian mengarahkan pistol di tangannya ke arah kepala Ghalya. Wanita lemah itu tidak melihat apa yang dilakukan tentara Israel yang baru saja memberinya minum. Sampai akhirnya timah panas melesak ke dalam batok kepalanya.

Setelah agresi militer Israel mereda, keponakan Ghalya yang bernama Majed berhasil menemukan jasad bibinya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Jasad Ghalya ditemukan tidak jauh dari rumahnya. 

Kemudian juru bicara militer Israel mengklaim bahwa tentaranya tidak menyerang warga sipil. Sebagai bukti ia memperlihatkan foto Ghalya sedang diberi minum serdadu Israel.

Profesor media di Universitas Gaza, Ahmad Al-Farra, mengatakan: “foto dari juru bicara militer Israel adalah propaganda yang menyesatkan untuk menyajikan potret manusiawi tentaranya. Hal ini dapat meningkatkan kesempatan untuk mengejar tentara Israel sebagai penjahat perang sebelum kasus ini diajukan ke ICC (Mahkamah Pidana Internasional).”

“Foto ini membuktikan kebingungan juru bicara militer Israel dalam mempertahankan pasukannya. Ini membuktikan bahwa mereka membunuh warga sipil,” tambahnya.