Menyambut Kematian

Ahad pagi Kami menerima telpon dari ibu mertua, mengabarkan kalau nenek terserang stroke yang kedua kali separo badannya kembali lumpuh, nenek tergolek lemah di pembaringan.   Usia nenek memang sudah lanjut  memasuki 75 tahun,  tapi beliau jarang mengeluh sakit. Bahkan ketika pada bulan november Kami pulang nenek ikut menjemput Kami ke bandara. Ingin rasanya Kamikembali pulang untuk menjenguknya, sayang study suami yang belum selesai dan kondisi keuangan memaksa Kami untuk menunda recana itu.

            Jum’at pagi kembali Kami mendapat telpon dari ibu mertua, memberi kabar yang membuat Kami terhenyak, nenek baru saja menghembuskan nafasnya yang terakhir. Inalillahi wa inailaihi rojiun, nenek kembali ke Rabb-Nya. Kami sangat sedih karena tak sempat bertemu lagi. Hanya do’a tulus yang kami panjatkan.

            Sepeninggal nenek saya sering teringat sosok beliau yang bersahaja dalam kesederhanaannya, beliau jarang bicara tapi kami merasakan kehangatannya. Satu hal yang membuat saya kagum adalah ibadahnya yang sangat tekun. Sepertiga malam ketika semua nyenyak tidur, nenek bermunajat dalam sujud panjangnya sam pai tiba waktu subuh, tak ada satu hari pun seingat saya yang beliau  lewatkan tanpa bangun malam. Bada subuh beliau beranjak sebentar dari sajadahnya untuk beraktifitas di dapur, setelah mandi kembali khusyu dalam sholat duha yang panjang. Tidak seperti kebanyakan orang yang super singkat atau bahkan seringnya melewatkan sholat sunat ini. Entahlah Nenek begitu betah berada di atas sajadahnya, bahkan kemana pun beliau pergi selalu dibawanya.

            Nenek pun sangat tekun shaum  sekali pun dalam safar, nenek jarang sekali berbuka. Bahkan ketika kami menikah nenek nazar shaum satu minggu. Perilaku Nenek seolah menggambarkan, tak ingin larut dalam kesenangan dunia yang fana, justru nenek lebih senang menyiapkan diri untuk kehidupan masa depan yang panjang di akherat. Sehingga ketika ajal datang menjemput nenek begitu siap dan ikhlas. Semoga Allah berkenan menerima amal ibadahnya dan menempatkan beliau di syurga-Nya, Amin.  

            Gambaran sikap nenek mungkin refleksi dari surat Al Mulk Ayat 2, ”Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya…..”. Kita diminta sering mengingat kematian sehingga kata mati dalam ayat tersebut ditempatkan dimuka, baru diikuti kata hidup. Agar kita selalu diingatkan untuk mempersiapkan kematian yang pasti akan terjadi. Gemerlap dunia yang menghadirkan berjuta kesenangan seringkali menyeret manusia dari mengingat mati. Sehingga memilih hidup yang penuh hura-hura, pongah terhadap Allah dengan melanggar syariatnya. Banyak kita menyaksikan orang yang sedang bergumul dalam dosa dijemput sakaratul maut. Ada yang lagi mabuk berat menenggak minuman keras tiba-tiba terkulai tak bernyawa, ada yang ditemukan membujur kaku di atas tempat tidur di sebuah lokalisasi atau ada kisah seorang lelaki yang terlindas truk sepulang berkencan dengan selingkuhannya.

            Kematian adalah sesuatu yang pasti, Cuma manusia tidak tahu kapan terjadinya, dimana tempatnya dan apa penyebabnya. Kematian adalah sebuah misteri kehidupan manusia yang senantiasa mengintai dimana pun kita berada. Tidak hanya mengintai kaum tua, tapi juga yang muda bahkan anak-anak. Misteri inilah yang harus diwaspadai kita, sehingga bijak dalam melangkah dan mengatur perilaku, jangan sampai menyesal berkepanjangan dan tiada akhir. Wallohu’alam