Pahlawan Tak Dikenal

Setiap 10 November kita memperingati hari pahlawan. Pada hari ini 69 tahun yang lalu rakyat Indonesia berjuang mati-matian untuk mempertahankan kemerdekaan negrinya. Tercatat bahwa yang berjuang bukan hanya tentara tapi juga rakyat. Kyai pimpinan pesantren mengerahkan santrinya untuk berjuang fi sabilillah. Gema takbir membahana memenuhi ruang langit dan bumi. Dada mereka membusung, semangat berkobar. Bagi rakyat Indonesia saat itu lebih baik syahid berjuang mempertahankan negara daripada kembali menjadi bangsa terjajah.

Bung Tomo sang komandan pasukan yang sangat disegani saat itu, tidak kenal lelah memompakan semangat juang. Pekik takbir seolah tiada henti berkumandang dari bibirnya. Tidak ada rasa takut, tidak istilah mundur, semua maju ke medan laga demi kebebasan bumi pertiwi.

 Ribuan nyawa pun melayang, tubuh-tubuh pun bergelimpangan meregang nyawa. Mereka mempersembahkan jiwanya demi bumi pertiwi. Mereka rakyat biasa, bukan siapa-siapa. Tapi hati mereka begitu mulia. Kita sama sekali tidak mengenalnya, pena sejarah pun tidak menuliskan namanya. Tapi darah mereka membasahi bumi pertiwi. Mereka pahlawan sesungguhnya yang berjuang tanpa mengharap balas jasa. Berjuang sampai titik darah penghabisan walaupun tak ada satu lencana pun terpatri di pundaknya. Satu yang mereka tahu bahwa berjuang mengusir penjajah adalah jihad fi sabilillah. Satu yang mereka kejar hidup mulia atau mati syahid. Selamat pahlawanku, jasamu sungguh besar bagi kami.