Pemimpin yang Dirindukan Itu…

Kehadiran pemimpin sangat diperlukan dalam mengatur kehidupan umat manusia. Tanpa kehadiran seorang pemimpin maka kehidupan umat manusia akan mengalami kekacauan. Menjadi pemimpin tidaklah mudah, seperti yang disampaikan oleh Umar Bin Khattab. Ketika Umar Bin Khattab menjadi khalifah ada seorang sahabat yang bertanya, bagaimana perasaanmu setelah menjadi khalifah. Lalu Umar pun  menjawab,” yang Aku rasakan sekarang ini, ibarat Aku tidur terlentang di atas meja dan ada pedang tergantung di atas yang siap untuk membelah dadaku”.

Umar ingin mengatakan bahwa menjadi pemimpin bukanlah posisi yang nyaman, tapi posisi yang terancam. Mengapa Umar merasa demikian karena Dia menyadari kepemimpinannnya ini akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Kepemimpinannya akan dihisab di mahkamah akherat kelak, siapa yang mau mencari kesulitan di hari yang sangat sulit itu.

Hingga sejarah pun mencatat kegemilangan Umar dalam memimpin, bukan karena setelah memimpin beliau berubah menjadi raja yang hidup mewah di istana dengan bergelimang harta benda. Justru Umar ketika menjadi khalifah lebih sederhana dari sebelumnya. Dia tidak memiliki pasukan pengawal, tidak memiliki baju kebesaran sang raja yang menyapu lantai dan tidak memiliki permadani cantik . Umar tetaplah Hamba Allah yang juhud, bahkan selama menjadi khalifah hanya memiliki dua helai baju yang sudah lusuh.

Kesederhanaan Umar tidak melunturkan wibawanya, bahkan kepemimpinannya sangat dipuji oleh rakyatnya dan disegani oleh musuh-musuhnya. Umar sudah berhasil menempatkan kepemimpinannya di atas landasan keimanan yang kokoh. Sehingga sangat berhati-hati dalam setiap langkahnya, takut dengan murka Allah. Semboyan Umar dalam kepemimpinannya “ Biarlah Aku yang lapar duluan dibandingkan rakyatku, dan biarlah Aku yang kenyang belakangan di bandingkan rakyatku. Umar sangat mementingkan kepentingan rakyatnya diatas kepentingan pribadi dan keluarganya. Umar tidak menjadikan posisinya sebagai ajang untuk memperkaya diri, menimbun harta untuk anak cucu, bahkan Umar menjauhkan diri dan keluarganya dari fasilitas umat sekali pun  hanya sesendok madu.

Umar memandang jabatannya sebagai khalifah sebagai beban yang berat dan sebaliknya bukan sebagai kemuliaan yang harus dibanggakan, sehingga jabatan tidak merubah gaya hidupnya, sebaliknya malah menambah keimanan dan kejuhududannya. Walaupun dalam pandangannya jabatan sebagai khalifah sangatlah berat namun bukan berarti harus lari dari tanggung jawab dan menyerahkannya kepada orang lain. Demikianlah seharusnya diteladani oleh kaum muslimin, jangan sampai karena takut oleh godaan jabatan maka tidak mau jadi pemimpin.

Menjadi pemimpin adalah salah satu misi hidup kita selain beribadah kepada Allah. Menjadi pemimpin adalah misi horizontal kehidupan kaum muslimin. Mengamankan kepemimpinan umat adalah salah satu agenda yang harus diperjuangkan. Jangan sampai kepemimpinan jatuh kepada orang-orang yang tidak bertanggung jawab, diemban oleh orang-orang yang tamak dan rakus terhadap kekayaan, serta kepemimpinan jatuh pada orang-orang yang tidak takut kepada Allah.  Sehingga jabatan yang dipegangnya dijadikan sarana untuk memperkaya diri dan menyeret umat pada kesesatan yang nyata.

Jika kepemimpinan jatuh pada orang yang amanah maka  tentu rakyat tidak perlu lagi menderita. Tidak ada lagi rakyat yang hidup di kolong-kolong jembatan, mengemis di jalanan, menjual diri karena lapar, terlantar di negeri orang karena mencari pekerjaan. Rakyat tidak perlu lagi menangis karena himpitan hidup. Tentunya pemimpin yang senantiasa menyadari bahwa jabatannya hanyalah titipan Allah yang akan dimintai pertanggung jawabannya. Mudah-mudahan para pemimpin Bangsa ini senantiasa merenungi dan mengingat peringatan Allah dalam surat Ali Imran ayat 26-2726.

 Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

27. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup[191]. dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)”.