Persahabatan dengan Bocah Sudan

Kami menempati asrama  keluarga yang disediakan kampus tempat suami menimba ilmu di Malaysia. Bangunan berlantai dua itu terbagi menjadi empat rumah. Masing-masing rumah memiliki dua kamar tidur, ruang tamu, kamar mandi dan dapur. 

            Kami menempati lantai satu, bertetangga dengan pelajar dari Palembang. Sedangkan di lantai atas ditempati pelajar Melayu dan pelajar Sudan bersama keluarga masing-masing. Lingkungannya cukup asri dengan halaman luas yang ditumbuhi pohon-pohon besar.

Pada suatu hari, kedua putri kecilku   kelihatan sangat mengantuk. Maklum, mereka sudah terbangun ketika  azan Subuh  berkumandang. Kasur busa tipis  digelar di lantai. Mereka kurebahkan sambil dikipas-kipas. Putri bungsuku asyik menyusu.  Sementara putri sulungku masih memandangi kipas yang berputar dengan mata yang   sayu. Setengah jam, kemudian prosesi  ngelonin,  sukses. Keduanya terlelap dibuai mimpi.

 Aku  ingin sekali menemani mereka tidur, namun keinginan itu segera kuusir jauh-jauh. Kusadari setumpuk pekerjaan  telah setia menanti, untuk dibereskan satu persatu. Aku perlahan beringsut meninggalkan  anak-anak. Kucuci piring-piring kotor bekas makan siang tadi, dilanjutkan dengan menyapu lantai, membereskan buku-buku bacaan, serta mainan yang berserakan di lantai.

            Pekerjaan selanjutnya adalah menyetrika  pakaian. Kutata alas setrika berupa beberapa helai kain  jarit. Aku sengaja menyetrika di ruang tamu. Selain ruangannya lebih luas, juga ada jendela  lebar.  Udara bisa leluasa masuk dan mengurangi rasa gerah. Aku mulai asyik menyetrika,  tanpa terasa setumpuk pakaian anak-anak sudah  rapi, tinggal menggarap baju-baju besar.

            Tok tok tok…!

 Tiba-tiba terdengar ketukan kecil di pintu. Ketika kubuka,  menyembulah dua kepala dengan rambut keriting kecil-kecil. Mereka  anak tetangga di lantai atas yang berkebangsaan Sudan. Kedua bocah itu rupanya siap bertamu di siang bolong ini.

            “Fatiya mana?”  Tanya Ali, bocah negro yang lebih besar.  Adiknya, Ahmad, hanya mesem-mesem,  karena ia tidak pandai berbahasa Melayu. Ahmad cuma fasih berbahasa Arab.

            “Fatiya sedang tidur siang,“ jawabku setengah berbisik, takut membangunkan bidadari-bidadari kecilku.

            “Aku mau main sama Fatiya,“ seloroh Ali, sambil berusaha menerobos masuk lewat tanganku yang  memegangi daun pintu.

Hup! Untung saja aku sigap mendorong pintu, sehingga bocah-bocah negro itu tidak berhasil menerobos.

            “Ali, Ahmad, anak yang baik, mainnya nanti ya kalau Fatiya sudah bangun,“ kataku, setengah membujuk.

            Tanpa menjawab, kedua bocah itu pun berlalu pergi. Aku menghela napas lega. Biasanya mereka sulit diajak kompromi. Aku langsung melanjutkan pekerjaan yang belum selesai.

Baru saja aku hendak meraih setrika, terdengar kaca kamar anak-anak diketuk-ketuk dari luar. Pasti kerjaan Ali dan Ahmad lagi! Rupanya mereka tidak mau menyerah begitu saja. Lama-lama  ketukannya tambah keras, diiringi suara mereka yang berisik.

 Aku tergopoh-gopoh masuk ke dalam kamar. Kusibakkan tirai yang menutupi kaca jendela. Nampak wajah legam itu sedang cekikikan. Sepertinya mereka puas  membuatku terganggu. Aku berusaha menahan  amarah. Tidak ada gunanya meladeni polah anak ingusan ini, batinku.

            “ Sssttt… jangan ribut ya, Fatiya sedang tidur,“ tegasku pelan, sambil meletakan telunjuk di dekat bibir.

Mereka pun akhirnya pergi sambil cekikikan. Aku kembali menyelesaikan pekerjaanku. Belum juga aku duduk sempurna, terdengar kembali ketukan di kaca jendela kamar. Kali ini yang menjadi “korban” adalah kamarku.   Ketukannya lebih keras lagi, dibarengi suara panggilan.

 Alhasil terdengarlah  tangisan putri bungsuku.  Aku  menghampirinya, berusaha menidurkannya kembali. Namun usahaku gagal,  Fatiya malah ikut terbangun. Akhirnya keduanya terjaga  dengan mata yang masih sayu. Keduanya jadi rewel, aku serba salah.  Mungkin karena mereka masih sangat mengantuk, tapi tak bisa tidur lagi.

Kejadian seperti itu kerap terjadi. Anak-anaku sering terganggu tidurnya karena ulah Ali dan Ahmad. Mereka tidak mempan dinasihati baik-baik. Aku sendiri tidak berani memarahi, apalagi mengadukan perbuatan mereka kepada orangtua mereka. Aku khawatir hal ini mengganggu hubungan baik kami dengan kedua orangtua mereka.

 Akhirnya, setiap hari aku cuma bisa memendam kesal.  Keduanya ibarat “monster” hitam kecil yang selalu berhasil memancing emosi kami.

Kalau mereka main ke rumah, semua mainan dikeluarkan. Bahkan satu demi satu mainan anak-anakku lenyap diambil . Pernah suatu hari  diam-diam Ali membawa pasir di tangannya. Ketika dia masuk ke rumahku, dilemparnya pasir itu di atas mainan anak-anak. Mainan anak-anak jadi kotor bertabur pasir. Aku terpaksa mencuci semua mainan itu. Kerjaan rutinku saja belum beres, ini malah menambah kerjaan baru.

Ali dan Ahmad suka memaksa  masuk ke rumah kami.  Sebenarnya aku tidak keberatan, tapi ulah mereka, sering di luar dugaan.

Suatu hari, mereka main di rumah. Waktu itu, aku sedang asyik masak di dapur. Tanpa sepengetahuanku, mereka masuk ke kamarku, naik ke  tempat tidur, sambil loncat-loncat. Dari dapur, aku senang-senang saja mendengar tawa anak-anak yang lepas. Namun aku jadi emosi begitu tahu perbuatan mereka. Ali dan Ahmad naik ke  tempat tidurku dengan kaki mereka yang kotor penuh lumpur! Jejak-jejak kaki  menempel jelas di atas seprei yang baru saja diganti.

“Astaghfirullah, Ali…!”  pekikku kaget, bercampur marah “Turun…! Turun..!” Aku menarik tangannya.

Mereka pun kabur sambil tertawa-tawa kegirangan. Tinggallah aku yang memandang nanar pada tempat tidurku yang acak-acakan, dipenuhi noda lumpur hitam. Duh, tambah pekerjaan lagi! Aku menarik napas dalam-dalam.

Sejak kejadian itu, aku “menghukum” Ali dan Ahmad. Mereka sama sekali tidak boleh masuk ke rumahku. Awalnya cukup menunjukkan hasil.  Kedua putriku bisa tidur siang dengan nyaman, tanpa ada yang mengganggu. Namun selang seminggu, mereka mulai berulah lagi.

Kali ini, ulah Ali dan Ahmad  sangat keterlaluan. Mereka menyalakan mesin cuciku yang kutaruh di luar rumah! Kebetulan saat itu aku lupa mematikan aliran listriknya. Dua bocah negro itu kulihat sedang memandangi mesin cuciku yang menyala, sambil tertawa-tawa.

“Ali,  awak  nyalakan mesin cuci ya? “ tanyaku, dengan nada tinggi.

“No… no…dia yang buat,” jawab Ali sambil mengangkat tangan, lalu menunjuk-nunjuk  Ahmad. Ahmad kaget  dia geleng-geleng kepala. Sejurus kemudian, mereka berdua kabur. Aku kira mereka  menyalakan mesin cuci saja, maka aku pun matikan aliran listriknya. Iseng-iseng aku membuka tutup mesin cuci.

Tebak, apa yang  ada di dalam mesin cuci?

Aku tak sanggup melihat! Cepat-cepat kututup kembali mesin cuciku. Tiba-tiba kepalaku pusing dan perutku mual. Bocah-bocah itu memasukan seekor anak kucing ke dalam mesin cuci!  Aku benar-benar tak sanggup lagi menghadapi tingkah laku mereka. Kali ini pertahananku bobol. Aku  menangis!

Terpaksa, selama beberapa hari, aku mencuci secara manual. Apa daya, mesin cuciku dipenuhi bulu kucing. Suami sudah membersihkan dan menguburkan jasad kucing malang itu, tapi bulu-bulunya sulit sekali dibersihkan.

Mau sampai kapan mereka berbuat onar dan mengganggu kami? Semakin dimusuhi, mereka semakin nekat. Padahal, mereka masih anak-anak.

Aku sadar, fitrah mereka baik. Barangkali ada sesuatu hal yang membuat mereka begitu. Kalau diingat-ingat, mereka  nampak senang kalau dimarahi atau berhasil membuat orang lain marah. Aku menarik kesimpulan, Ali dan Ahmad cuma ingin diperhatikan. Mereka ingin keberadaan mereka diakui. Mereka merasa berbeda dengan anak-anak yang lainnya.  Sayang, caranya salah.

Aku dan suami berniat untuk memperbaiki hubungan dengan Ali dan Ahmad. Suatu sore, aku sengaja  membuat camilan lebih banyak. Kupanggil mereka, Ali dan Ahmad nampak ragu.  Kusuguhi mereka secara istimewa, mereka pun makan dan minum dengan gembira.

Selesai makan, aku bacakan mereka buku cerita, tentang makhluk-makhluk ciptaan Allah. Aku yakinkan mereka, bahwa kita  sama-sama  makhluk Allah. Ali dan Ahmad terlihat ganteng dengan kulit hitam dan rambut keritingnya. Fatiya dan Qonita terlihat cantik dengan kulit kuning dan rambut lurusnya. Semuanya sama di hadapan Allah, jadi kita ini bersaudara, tidak boleh saling menyakiti.

Aku sentil sedikit-sedikit ulah mereka. Yang tidak baik, jangan diulangi. Sore itu menjadi sore yang indah bagi kami. Sore penuh persahabatan dan persaudaraan.

Sejak sore yang indah itu, Ali dan Ahmad semakin bersikap baik. Mereka tidak berbuat macam-macam lagi. Akan tetapi, tetap, kalau siang hari, pasti mereka mengetuk-ngetuk pintu rumahku, mau mengajak anak-anakku bermain. Padahal, itu waktunya tidur siang.

Hm, bagaimana cara mengatasinya ya?

Aha! Suamiku punya ide bagus!

 Begini, untuk menyalurkan tenaga Ali dan Ahmad yang luar biasa, suamiku membuat kebun singkong di belakang rumah. Ali dan Ahmad mendapat tugas  mencangkul dan mencabuti rumput liar di siang hari. Sore harinya, suamiku yang menyiram tanaman,  sepulang dari kampus. Mereka senang sekali! Mereka melaksanakan tugas masing-masing dan tidak pernah mengganggu tidur kedua putriku lagi.

Alhamdulillah, semakin hari hubungan kami dengan keluarga Ali dan Ahmad, semakin baik. Orangtua mereka sangat sayang kepada anak-anakku. Mereka sering mengirimi kami makanan khas Sudan yang legit-legit. Sebaliknya, mereka pun sering makan di rumahku.

Ketika aku baru melahirkan, Zainab, ibu Ali dan Ahmad   membantuku(memomong bayi.  Lambat laun, Ali dan Ahmad sedikit-sedikit mengerti dan bisa berbicara dalam bahasa Sunda, karena kebiasaanku yang suka ngomong Sunda. Mereka pun  kuberi panggilan kesayangan yakni, Jang Ali dan Jang Ahmad.

Tiada yang kekal di dunia ini. Kami masih ingin merasakan manisnya kebersamaan. Namun apa hendak dikata, keluarga Sudan itu harus segera pulang ke negara asalnya. Ketika hari kepulangan mereka sudah dekat, Zainab menghadiahkan perabotan dapurnya yang lengkap dan bagus-bagus, untukku. Katanya, ini atas permintaan Ali.  Duh, aku terharu sekali. Ternyata  si “Monster Hitam” itu memiliki hati yang lembut.

Aku tidak kuasa menahan tangis ketika Ali dan Ahmad berpamitan pulang. Kubelai rambut mereka sambil minta maaf. Tanpa kuduga, keduanya malah)menghambur ke pelukanku. Kami pun bertangisan, disaksikan kedua orangtua.

Ali dan Ahmad masih berlinangan air mata ketika sudah berada di dalam mobil yang mengantarkan mereka. Lambaian tangan mereka terasa begitu berat, seberat hatiku melepas kepergian mereka.