Renungan Sebuah Perjalanan

   Pagi itu kota Bandung diselimuti kabut dingin, semalaman hujan tak hentinya mengguyur. Dalam keadaan dingin seperti ini yang paling nikmat menarik kembali selimut atau duduk di sofa empuk ditemani secangkir teh hangat. Sayang kedua hal itu tak dapat kulakukan, karena Aku sibuk memandikan ketiga buah hatiku dan berkemas barang-barang yang akan dibawa, yah Kami harus segera bersiap untuk perjalanan yang cukup jauh, Aku dan anak-anak akan berangkat ke negeri jiran Malaysia menyusul suamiku yang sudah terlebih dahulu berangkat. Perjalanan kali ini agak berat, bukan hanya karena tidak ditemani suami tapi juga karena kondisi bapak yang masih tergolek lemah. Berat hatiku meninggalkan bapa yang belum sehat betul tapi apa mau dikata, Aku juga punya kewajiban lain sebagai istri. Dan yang lebih membuat hati ketar ketir kondisi  dunia penerbangan kita yang diberitakan belum aman, begitu juga dengan perjalanan laut yang masih dalam kondisi rawan badai. Padahal kami harus menggunakan keduanya untuk sampai ke Malaysia. 

Sesampainya di Bandara Husein Bandung hujan turun sangat lebat, Kami bergegas masuk lambaian tangan dan isak tangis sanak keluarga mengiringi langkah Kami. Selamat tinggal semua doakan Kami agar bisa kembali ke bumi tercinta ini bisik ku dalam hati.

            Pesawat yang kami tumpangi tetap tinggal landas di tengah guyuran hujan. Suasana di dalam pesawat sangat hening semua orang membisu sibuk dengan pikiran masing-masing. Tanpa kusadari hari ini bertepatan setahun sebuah pesawat jatuh dan belum ditemukan bangkainya.  

 ”Umi kenapa pada diem takut yah?” tanya anak sulungku ,polos. 

” Kapal ini bisa aja jatuh”, lanjutnya lirih.

 Sepontan yang mendengar melirik ke arah kami. Tapi Fatiya tetap cuek, dia terus saja berceloteh.

 ” Mi kita ga usah takut, mendingan kita siap-siap pegang pelampungnya, kalo kapal ini jatuhnya ke laut kita ga akan tenggelam kita renang saja ya kan asyik kan, De.” Katanya sambil menoleh adiknya, kemudian kepalanya melongo ke arah jendela. 

” Betul mi kita ada di atas laut udah ga usah takut,”katanya sambl menggoyangkan kaki.

 ”Kalau jatuhnya ke gunung gimana teh?” tanya adiknya. Ditanya begitu Fatiya langsung pasang tampang serius, telunjuk di arahkan ke keningnya tanda lagi mikir.

 ”Kalau kapalnya jatuh ke gunung, kayanya akan hancur kita ikut hancur, tapi mudah-mudahan saja nyangkut di pohon jadi ga hancur kita tinggal loncat deh,” jawabnya tetap riang.

 ”Tapi kalaupun kita mati ga apa-apa, De, kita akan ketemu Allah,” katanya dengan nada serius ”Takut!!!” jawab adiknya.

 ”Ya… ya… jangan takut, kita berdo’a saja sama Allah agar selamat yah.” Mereka berdua menengadahkan tangan khusyu berdo’a. Aku jadi terhibur melihatnya, tak lama kemudian mereka sudah asyik nyanyi-nyanyi sambil makan, mungkin hati keduanya sudah tenang. Walaupun sekali-kali kapal terguncang keras.

            Celotehan anak-anak mengingatkan Aku pada satu hal yang mungkin sering kita abaikan yaitu keyakinan akan pertolongan Allah, bagaimana pun kondisinya kita harus selalu optimis karena yakin akan adanya jaminan dari Allah, bahkan ketika menghadapi hal terburuk sekali pun. Keyakinan akan adanya pertolongan Allah melahirkan sikap Ridlo akan keputusan Allah. Apa pun yang menimpa kita pasti atas kehendak Allah yang kita lakukan berupaya dan berdo’a, selebihnya pasrah pada-Nya. Lihatlah bagaimana putri sulungku selalu berpikir positif dalam setiap kondisi yang dia hadapi. Celotehan anak-anak menyegarkan kembali keimananku pada Allah.

            Di tengah rintik hujan pesawat berhasil mendarat sempurna di bandara Batam. Kami sangat gembira ketika sesosok lelaki tegap menyongsong Kami. Kami kembali berkumpul setelah sekian lama terpisah, tentunya karena izin Allah.