Sepatu, Hitam Putih

Senja masih meninggalkan gerimis. Udara terasa dingin menusuk sampai ke tulang sumsum. Perlahan senja menghitam. Sang malam merayap datang. Pintu dan jendela segera ditutup dan dikunci. Malam kelam berselimut kabut, paling enak kalau bersembunyi di bawah selimut. Tapi tidak malam ini. Aku masih kuat terjaga, lebih pasnya, berusaha untuk tetap terjaga. Masih ada yang kutunggu, bapa.

Malam ini, bapa berjanji akan membawa sepatu baru untukku. Sepatu yang akan kupakai besok, di hari pertama masuk sekolah. Sepatu yang sangat aku idam-idamkan, karena sepatu lama sudah tidak layak pakai. Sebenarnya kemarin, bapa sudah membelinya. Tapi tertinggal di truk bapa, yang ditinggal di pabrik.

Kulirik jam dinding, jarum panjang sudah menunjuk ke angka sembilan, dan jarum pendek ke angka 12. Ibu dan adik-adikku sudah terlelap di kamar masing-masing. Aku bertahan duduk di kursi yang ada di ruang tamu. Kusandarkan kepalaku ke sandaran kursi. Biarlah aku terlelap sebentar dan akan langsung bangun begitu bapa pulang.

Kriiik … kriiik … terdengar suara jangkrik di halaman rumah. Sesekali terdengar lolongan anjing. Burung-burung malam berlomba mengeluarkan suaranya, menambah angkernya malam ini. Aku mencoba menepis semua rasa takut dan bayangan-bayangan yang mengerikan. Tekadku bulat, menanti bapa pulang. Ahhh … jangan-jangan malam ini bapa tidak pulang, bisikku dalam hati. Cepat-cepat kutepis perasaan itu, bapa pasti pulang, gumanku.

“Neng … Neng … bangun!” Terasa pipiku ada yang menepuk. Aku mencoba menepis. Sejurus kemudian aku ingat sesuatu. Cepat-cepat kubuka mataku.

“Bapa mana? Bapa mana?” Pekikku, antara sadar dan tidak.

“Tuh Bapa lagi mandi,” jawab Ibu, sambil tersenyum.

“Yaaah … berarti aku ketiduran. Ibu sih telat bangunin …,” aku sangat menyesal, kenapa sampai ketiduran. Sehingga tidak bisa menyambut bapa di pintu.

“Tuh Bapa bawa roti bakar masih hangat,” kata ibu sambil melirik ke meja. Aku tidak tertarik sedikitpun dengan roti bakar. Mataku mencari bungkusan lain yang dibawa bapa. Tapi nihil, aku tidak menemukannya. Aaah … jangan-jangan bapa lupa lagi.

Tak lama kemudian bapa muncul. Wajahnya tampak segar, karena habis mandi. Bapa menatapku sambil tersenyum.

“Tuh makan roti bakarnya, sengaja bapa mampir ke terminal buat beli roti bakar yang masih hangat.” Kata bapa sambil duduk di kursi.

Perlahan, kubuka bungkusan roti bakar, lalu kuambil sepotong. Duh … enaknya roti bakar hangat ini, apalagi dimakan di malam hari yang dingin begini.

“Pa … sepatunya jadi dibawa?” Tanyaku, sambil mengunyah roti. Bapa menepuk jidatnya.

“Oh iya … kok sampai lupa ….”

“Hah … Bapa lupa lagi?” Kataku, kaget.

Bapa tidak menjawab. Beliau pergi ke kamar. Tak lama kemudian, keluar lagi sambil membawa kantong pelastik berwarna hitam. Bapa memberikan bungkusan tersebut padaku. Wajahnya tampak sumringah.

“Ini sepatunya, mudah-mudahan cukup,” kata bapa, sambil duduk di sampingku.

Secepatnya kubuka bungkusan yang diberikan bapa. Waw … sepatu putih bermerk terkenal. Senyumku langsung mengembang. Tanpa banyak bicara, kucoba sepatu baruku. Pas banget, senangnya hatiku.

“Terimakasih, Pa,” sambil berkeliling memamerkan sepatu baru. Bapa dan ibu tersenyum, melihat tingkahku. Setelah puas mencoba, kubuka kembali sepatu baruku. Kemudian kuusap-usap. Kucari bandrol harganya, tapi tak kutemukan. Oh ya, baru sadar sepatu baruku tidak disimpan di dalam kotak dus, selayaknya sepatu baru.

“Pa, kok tidak ada dusnya?” Tanyaku, bapa memandangku dengan tatapan berbeda.

“Maafkan Bapa, sepatu itu bukan dari toko tapi dari pasar loak.” Jawab bapa pelan, nyaris tak terdengar.

“Oh …,” gumamku, tanpa melanjutkan bicara. Kupandangi sepatu baruku, ada sedikit perasaan sedih. Ternyata sepatu ini, bukan sepatu baru tapi bekas. Bapa memandangku dengan tatapan sedih. Cepat-cepat aku tersenyum.

“Tidak apa-apa kok Pa, sepatunya bagus kok.” Kataku, sambil memeluk sepatu.

“Nanti, kalau Bapa ada rezeki kita beli yang baru dari toko ya,” kata bapa, sambil mengusap kepalaku. Aku menganggukkan kepala dengan riang.

Malam terasa sangat lama. Jarum jam bagaikan tidak bergerak. Aku ingin segera pagi. Ingin segera memakai sepatu baru. Besok adalah hari pertama sekolah, setelah libur panjang. Aku kangen sama teman-temanku.

oOo

Aku setengah berlari, menuju gerbang sekolah yang hampir mau ditutup. Aku terlambat sampai ke sekolah, karena tidak kebagian angkutan. Beruntunglah, mobil yang membawaku berjalan laksana kapal jet. Ngebut, tapi tidak ugal-ugalan.

“Waw … sepatu baru niye …” Seru Firman, temanku yang berambut keribo. Aku membalas ejekannya dengan mencibir.

Aku senang sekali hari ini, karena menggunakan sepatu merk terkenal. Sepatu berwarna putih itu, menjadi kebanggaanku kini. Beberapa temanku juga, memakai sepatu baru. Mereka, tentunya membeli sepatu dari toko, tidak seperti aku. Tapi aku tetap bersyukur, walaupun sepatuku dari pasar loak.

“Sepatunya baru ya?” Tanya Isti, sahabatku.

“Iya  Is, dibelikan Bapa.” Jawabku, sambil tersenyum.

“Wah senangnya, kalau aku tahun ini tidak bisa beli sepatu baru.” Kata Isti, dengan nada sedih.

“Tidak apa Is, yang penting masih pakai sepatu, iya kan?” Kataku, menghibur sahabatku. Isti tersenyum.

“Yuk kita ke lapangan, upacara sudah mau dimulai,” ajak isti, sambil menarik tanganku.

Kami pun mengikuti upacara dengan penuh semangat. Setelah tahapan demi tahapan upacara dilaksanakan, upacara pun ditutup. Setelah selesai upacara, pembawa acara, meminta semua murid untuk tetap di lapangan. Ada pengumuman penting, dari wakil kepala sekolah bagian kesiswaan.

Bapa Suwandi yang berbadan subur, naik ke mimbar. Beliau menyampaikan beberapa arahan dan tata tertib sekolah. Semua tata tertib terdengar klise, tidak banyak perubahan. Namun, ada satu tata tertib yang langsung mendapat respon dari para murid. Aturan baru ini, menetapkan semua murid untuk menggunakan sepatu berwarna hitam. Bagi yang melanggar akan dikenakan sanksi, yaitu harus keluar dari kelas. Apabila sedang upacara, maka sepatunya akan diambil satu. Maka sepanjang upacara hanya berdiri di atas satu kaki.

Mendengar aturan tersebut, tidak sedikit murid yang berteriak protes. Tapi wakil kepala sekolah bergeming. Karena keputusan ini sudah disepakati oleh semua guru. Aku menunduk, menatap nanar sepatu baruku yang berwarna putih. Sepatu yang dengan susah payah bapa beli.

Sepatu ini dibeli dengan tetesan keringat bapa. Tanpa terasa, butiran bening jatuh dari sudut mataku. Seandainya, aku orang kaya, aku siap melaksanakan aturan ini. Tapi aku orang miskin, bisa sekolah saja sudah untung.

Setelah barisan dibubarkan, aku langsung menuju kelas. Ada sesak yang tiba-tiba menjalar di dadaku. Begitu mudahnya aturan itu diubah, tanpa memperdulikan kesiapan murid. Bagi sebagian orang, membeli sepatu bukanlah perkara sulit. Tapi bagiku, membeli sepatu berarti menyuruh bapa memeras keringat lebih keras lagi.

Aku tidak sampai hati, kalau harus meminta dibelikan sepatu baru. Aku bertekad untuk menanggung sanksi, daripada harus membeli sepatu baru lagi. Walaupun, untuk itu aku harus menanggung malu.

Kami hanya diberi waktu satu minggu, untuk sosialisasi aturan baru. Beberapa temanku, memutuskan untuk membeli sepatu baru berwarna hitam. Di kelasku, Cuma dua orang yang bertahan dengan sepatu putih. Aku dan Ade, ketua kelas kami.

Waktu seminggu pun terasa cepat berlalu. Mulai hari senin, ketentuan penggunaan sepatu hitam mulai diberlakukan. Untungnya, hari senin aku mendapat pinjaman sepatu dari adikku, hanya hari senin.

Ketika upacara berlangsung, team razia mendatangi barisan. Memeriksa, kalau ada siswa yang bersepatu selain hitam. Ada beberapa orang yang kena razia. Petugas mengambil sepatu mereka sebelah. Selama upacara mereka hanya menggunakan sebelah sepatu. Kejadian ini, mengundang gelak tawa. Tapi tidak buatku, aku menatap haru teman yang terkena razia, pasti mereka pun malu. Suatu hari, aku pun akan mengalami hal yang sama, jika tidak mendapat pinjaman sepatu.

Selain hari senin, aku memakai sepatu putih. Di sinilah petualangan dimulai. Aku tidak menjadikan beban, dibawa santai saja. Di hari selasa, team razia mendatangi kelas. Aku sudah deg-degan. Untunglah saat itu di kelasku tidak ada guru. Ketika team razia masuk ke kelas sebelah, aku dan Ade lari ke toilet. Kami pura-pura buang hajat. Setelah dirasa, team razia sudah selesai memeriksa kelas kami, aku dan Ade kembali ke kelas. Selamatlah kami hari itu.

Begitulah, aku main kucing-kucingan dengan petugas razia. Aku beruntung belum pernah kena sanksi, walaupun harus lari atau sembunyi. Entah sampai kapan aku harus menjalani petualangan ini. Aku tidak pernah menceritakan kesulitanku pada orangtua. Aku kasihan, melihat pengorbanan mereka yang sangat luar biasa. Mungkin kalau aku bercerita, mereka mau membelikan sepatu baru berwarna hitam, walaupun berhutang.

Aku berusaha menyisihkan uang jajan. Aku berencana untuk membeli sepatu hitam dengan uang jajan yang aku kumpulkan. Karena uang jajan pun jumlahnya tidak seberapa, maka mengumpulkan uang untuk membeli sepatu pun memakan waktu yang lama.

Pada suatu malam yang dingin, aku dan adikku sudah terlelap dibuai mimpi. Bapa belum pulang kerja. Ibu yang setia menunggunya. Antara sadar dan tidak, aku mendengar bapa bicara padaku. Aku anggap sebagai mimpi, maka aku pun melanjutkan, merajut mimpi yang terputus.

Esoknya, bapa berangkat lebih pagi dari biasanya. Bapa mendapat tugas keluar kota, jadi harus datang lebih awal. Ketika aku bangun bapa sudah berangkat. Aku mendapati bungkusan pelastik di atas meja belajar. Perlahan kuraih, lalu kubuka. Aku nyaris berteriak karena girang. Ternyata diam-diam bapa membelikan sepatu berwarna hitam, ada label harga dan kotak dusnya, berarti baru. Aku peluk sepatuku yang baru. Ternyata, masih ada bungkusan lainnya, ternyata tas berwarna merah menyala. Kebahagiaanku bertambah, aku nyaris menangis karena sedih dan senang bercampur menjadi satu.

Menurut ibu, bapa bekerja lebih keras karena merasa kasihan sama aku, yang memakai sepatu dari loak. Waaah … aku kangen bapa. Aku berjanji malam ini, akan tetap terjaga sampai bapa pulang. Aku ingin mengucapkan terimakasih J.