Si Hitam yang Cemerlang

Siang itu mentari bersinar sangat terik, tepat berada di atas ubun-ubun kepala.  Jalanan penuh dengan debu putih yang sudah lama merindukan hujan. Udara terasa sangat panas membakar tubuh. Di sebuah jalan kecil, seorang bocah berjalan gontai, melangkahkan kakinya dengan malas. Rio, nama bocah tersebut merasa kesal dengan teman-teman sekolahnya. Mereka sering mengejeknya, hampir setiap hari dia jadi bulan-bulanan teman-temannya.

Sebabnya karena kulit Rio lebih hitam dibanding teman-temannya. Alhasil Rio mendapat berbagai julukan, si negro, si keling, orang Afrika. Tentu saja Rio tidak suka dengan semua julukan itu. Harga dirinya merasa dilecehkan, diinjak-injak dan dihina. Tekadnya bulat mau pindah sekolah !

“Bu, Aku mau pindah sekolah. “ Kata Rio pada ibunya, sesampainya di rumah.

“ Lho kenapa ? tidak ada angin tidak ada hujan kok minta pindah. “ Jawab ibunya sambil memandang heran.

“ Pokoknya Aku mau pindah sekolah. “ Jawab Rio sambil melempar tas sekolahnya, kesal. Ibu memandang tingkah Rio dengan heran. Dengan lembut tangan ibu membelai kepala Rio.

“ Rio, pujaan hati Ibu, coba cerita sama Ibu ada apa di sekolah ? sampai-sampai Rio mau pindah sekolah. “ Tanya ibu sambil duduk di samping Rio.

“ Aku sudah tidak kuat Bu, teman-teman selalu mengejeku, mereka menghinaku karena kulitku hitam. “ Jawab Rio, sambil menahan tangis.

Ibu tersenyum kecil memandang Rio, kemudian menyalakan VCD. Ibu memasukan CD baru. Tak lama kemudian layar televisi menunjukan sebuah tayangan. Di sana nampak ada orang tanpa kaki dan tangan, tapi bisa hidup mandiri bahkan menjadi seorang penulis. Rio merasa sangat kagum dengan orang tersebut. Kemudian ibu mematikan VCD dan kembali duduk di samping Rio.

“ Nak, tadi Kamu lihat orang yang cacat sejak lahir. Dia tidak punya tangan dan kaki, tapi dia bisa berprestasi. Kenapa dia bisa berprestasi ? “ Tanya ibu sambil membelai kepala Rio yang tertunduk.

“ Karena dia tidak menjadikan kekurangnnya sebagai beban. Melainkan menjadikannya sebagai cambuk untuk bangkit. Kamu lihat sendiri, dia menjadi penulis terkenal, hebatkan? “

Rio mendengarkan perkataan ibunya dengan seksama. Dalam hatinya, dia merasa malu karena sudah kesal dengan keadaannya. Padahal dibandingkan dengan orang itu, tentulah Rio jauh lebih sempurna.

 “ Kalau teman-teman menghina Rio, jadikan itu sebagai cambuk agar Rio bisa lebih berprestasi lagi. Tunjukan pada mereka kalau Rio anak yang hebat. Okey ? “ Rio pun mengangguk penuh semangat.

Di suatu pagi yang cerah, halaman SD Tunas Unggul nampak lebih ramai dari biasanya. Di depan sudah dipasang sebuah panggung yang cukup besar. Rupanya hari itu ada acara istimewa, yaitu kenaikan kelas. Setiap tahun SD Tunas Unggul memberikan penghargaan pada siswa-siswinya yang berprestasi. Tepat pukul delapan pagi acara dimulai. Diawali dengan sambutan dari Bapak Kepala Sekolah.

Rio datang didampingi dengan ayah dan ibunya, mereka duduk di deretan ke tiga dari depan. Rio tidak berharap banyak akan mendapatkan penghargaan dari sekolahnya. Setiap tahun Rio hanya cukup puas masuk sepuluh besar saja. Di kelasnya ada tiga bintang pelajar yang bergantian meraih penghargaan. Tibalah waktu yang mendebarkan bagi semua hadirin. Pembawa acara mengumumkan juara kelas dari masing-masing kelas dan juara umum.

“ Dan juara kelas dari kelas lima adalah Rio…”

Rio terlonjak dari tempat duduknya, tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Setelah mencium tangan ibu dan ayah, Rio pun maju ke depan dengan langkah yang mantap. Semua orang memandangnya dengan rasa kagum. Rio sangat bersyukur dengan apa yang diperolehnya. Usahanya untuk belajar dengan lebih giat ternyata berbuah manis. Rio tidak peduli dengan ejekan teman-temannya lagi, sekarang dia ingin membuktikan, si hitam pun bisa cemerlang.