Waspadai, Penyakit Ini Mengintai Ibu Menyusui

Sejak dikaruniai anak pertama saya bertekad untuk memberikan ASI selama dua tahun. Karena sangat banyak manfaatnya untuk anak, Alhamdulillah keempat anak saya bisa minum ASI.  Bahagia rasanya bisa menyaksikan mereka tumbuh dengan sehat dan ceria. Walaupun mereka tidak minum susu formula tapi tubuhnya gemuk berisi, tidak kalah dengan anak-anak yang minum susu formula. Selama menyusui saya rajin minum susu kacang kedelai, ditunjang dengan makan banyak sayur dan daging. Produksi ASI tidak pernah bermasalah dan anak-anak nampak puas meminumnya.

            Setiap kali menyusui ada perasaan yang bertambah-tambah dalam hati ini. Bertambah sayang sama buah hati, bertambah dekat hubungan emosi dan bertambah bersyukur dianugrahi buah hati. Saya merasa sebagai perempuan yang sempurna, bisa menjadi ibu yang menyusui bayinya langsung. Momen menyusui tidak tergantikan dengan apapun, selamanya.

            Ketika menyusui anak ke empat, ada pengalaman buruk yang harus saya alami yang sebelumnya tidak pernah terbayangkan. Anak ke empat lahir lewat operasi Caesar, setelah saya berjuang enam jam lebih untuk melahirkan normal. Pasca operasi saya mengalami shock yang luar biasa. Saya merasa orang yang kalah dalam peperangan, rasa sesal, kesal bercampur menjadi satu. Operasi ini merupakan pengalaman saya yang pertama, saya hanya terbaring lemah tak berdaya. Bayi saya yang baru dilahirkan kerap terdengar menangis, perawat berinisiatif untuk memberi susu formula untuk menghentikan tangisnya.

 Hati kecil saya sebenarnya tidak setuju, namun apa daya saya belum boleh banyak bergerak. Sepanjang malam itu bayi saya dirawat oleh suster dan saya dibiarkan istirahat sendiri. Tanpa saya sadari ternyata pemberian susu formula pada bayi saya merupakan awal petaka untuk saya.

Setelah dua hari dirawat, saya diizinkan pulang ke rumah. Rasa bahagia bercampur lega memenuhi relung hati saya. Saya bahagia sekali bisa melewati proses persalinan dengan selamat walaupun harus menjalani operasi. Tak lepas mata ini memandang bayi montok yang terlelap dalam dekapan. Sesampainya di rumah saya langsung menyusui bayi saya yang diberi nama Akhyar. Lahap sekali dia menyusu, sepertinya tidak merasa asing dengan rasa ASI. Padahal selama di klinik bersalin dia diberi susu formula. Namun Akhyar menolak untuk menyusu pada ASI sebelah kanan. Kebetulan putingnya kecil dan agak masuk ke dalam. Berkali-kali dicoba, Akhyar menolak dan menangis keras.

“ Itu biasa, mungkin Akhyar merasa susah mengulum puting yang kecil “ hibur mamah.

“ Lama-lama juga dia pasti mau, dulu juga mamah begitu yang sebelah kanan jarang dihisap. “ Tenang rasanya batin ini mendengar penjelasan mamah.

Karena Akhyar tidak mau menghisap, supaya tidak bengkak maka ASI sebelah kanan diperas dan dibuang. Alhamdulillah payudara saya tidak bengkak. Dari waktu ke waktu berjalan, Akhyar tetap tidak mau menyusu pada payudara sebelah kanan. Lama kelamaan air susunya pun berkurang, dan akhirnya tidak memproduksi lagi. Karena merasa tidak bengkak dan tidak ada rasa sakit, maka saya pun tenang-tenang saja. Akhyar pun tumbuh menjadi anak yang sehat, badannya montok, sangat menggemaskan.

Ketika usia Akhyar 1,5 tahun, saya merasa payudara sebelah kanan agak mengeras. Badan pun sedikit meriang seperti mau sakit flu. Kebetulan saat itu jadwalnya datang bulan. Saya pikir itu tanda-tanda datang bulan, biasanya payudara sedikit mengeras. Setelah meminum obat flu, demam berangsur hilang dan saya merasa sehat kembali. Dua hari kemudian saya sekeluarga berangkat ke luar kota. Saya pun sibuk packing barang yang mau dibawa, alhasil  terpaksa begadang hingga larut malam. Besoknya kami berangkat malam hari dan sampai menjelang subuh. Sepanjang perjalanan saya tidak bisa tidur, saya tidak terbiasa tidur di dalam mobil.

Besoknya, demam kembali datang dan payudara sebelah kanan terasa mengeras lagi bahkan lebih meluas. Saya berusaha mengurut dan mengompres dengan air hangat, lumayan rasa sakitnya berkurang. Sekembalinya dari luar kota, saya langsung ke dokter. Dokter memeriksa dengan teliti, tapi tidak bisa memastikan penyakit apa yang saya derita. Dia menyarankan saya melakukan mamografi. Dokter khawatir saya menderita kanker payudara.

Mendengar penjelasan dokter nyali saya langsung ciut, bayangan yang serem-serem hilir mudik dalam pikiran saya. Saya tidak langsung mengikuti nasihat dokter, saya cari informasi sana-sini. Dari informasi yang saya dapatkan, kemungkinan saya menderita radang payudara (mastitis). Hal ini kemungkinan terjadi karena ada endapan sisa air susu di dalam payudara saya yang tidak keluar, kemudian ada bakteri yang masuk. Ketika kondisi tubuh saya menurun, bakteri semakin aktif bereaksi yang menyebabkan radang.

Saya pun memutuskan untuk berobat pada dokter yang lain. Dokter tersebut tidak menyarankan mamografi, karena dalam kondisi bengkak tidak bisa dilakukan. Dia memberi obat antibiotik dosis tinggi dan anti bengkak. Alhamdulillah payudara saya berangsur membaik, demamnya hilang dan rasa sakitnya berkurang. Namun beberapa minggu kemudian, timbul benjolan kecil dekat puting warnanya kemerahan. Benjolan tersebut timbul setelah saya kecapean, karena menemani suami dinas ke luar kota.

Benjolan kecil tersebut, berangsur menimbulkan nyeri yang luar biasa. Menjalar dari payudara sampai ke punggung. Saya pun kembali ke dokter, ternyata benjolan tersebut adalah bisul akibat dari radang payudara. Dokter mengatakan bisul ini bisa mengecil dan hilang, tapi memerlukan waktu. Saya ditawari melakukan operasi kecil mengeluarkan bisul tersebut. Karena merasa tidak tahan dengan rasa sakitnya, saya pun memilih operasi. Tidak sampai satu jam, operasi kecil pun berhasil dilakukan. Ada banyak darah dan nanah yang dikeluarkan. Rasanya plong sekali, rasa sakit yang menjalar hilang begitu saja.

Pasca operasi, ternyata harus menghadapi kondisi yang mengerikan juga. Setiap hari luka bekas operasi harus dicuci. Walaupun bekas sayatannya kecil, namun lukanya cukup dalam. Setiap dicuci rasanya sakit luar biasa, kasa kecil dimasukan ke dalam luka kemudian ditarik lagi. Dilakukan berkali-kali sampai lukanya kering, kalau ada gumpalan darah maka dikeluarkan dengan menekannya, rasanya luar biasa. Kata perawat, lukanya baru bisa kering setelah sebulan perawatan. Dan selama itu tiap hari saya harus merasakan sakit dan perih yang luar biasa. Untunglah ada teman yang memberi tahu untuk meminum obat herbal, Alhamdulillah hanya dalam waktu satu minggu lukanya kering dan tidak meninggalkan bekas.

Penyakit ini menjadi pengalaman yang berharga buat saya, untuk lebih berhati-hati dalam menjaga kesehatan. Jangan pernah menganggap hal kecil karena bisa berdampak besar.