Berbagi Kebahagiaan Bersama Sesama Istri

Sepanjang alur kehidupan kita, pasti ada masa-masa yang sangat berkesan. Entah itu karena bertabur rasa bahagia, berkubang air mata, atau karena penuh perjuangan. Saya sendiri mengalami banyak masa yang sangat berkesan dan selalu setia menghiasi memori yang sudah mulai menua.

Salah satu pengalaman hidup yang sangat berkesan adalah ketika mendampingi suami di negri jiran. Pada saat itu suami melanjutkan studi S-3. Pada waktu itu kami sudah dikaruniai dua orang putri yang masih balita. Dengan penuh semangat kami boyongan ke Malaysia, berharap di sana kami dapat hidup layak dan mendapat banyak pengalaman.

Kami tidak membayangkan sebelumnya, justru di negeri orang inilah kami ibaratnya dimasukan ke dalam kawah candradimuka. Berbagai teori tentang kehidupan yang selama ini hanya kami baca harus kami praktikan. Pertama, kami harus menghadapi kenyataan beasiswa yang suami terima jumlahnya tidak terlalu banyak, hanya cukup untuk biaya hidup bujangan, sedangkan kami berempat. Kedua, kenyataan bertambah pahit, ketika di tahun kedua beasiswa habis. Nah loh.

Awalnya suami saya ingin pulang, karena tidak terbayang bagaimana caranya menutup biaya hidup kami. Di saat inilah saya mendapatkan suntikan semangat dari teman-teman seperjuangan saya, sesama istri studen. Kami sering berkumpul untuk mengikuti pengajian atau berolah raga. Kami berkumpul untuk berbagi kebahagiaan Kami saling merasakan kondisi sulit yang harus kami hadapi, sehingga kami berusaha untuk memberi inspirasi kebahagiaan . Dari mereka-lah saya mendapat semangat untuk tidak menyerah dan melanjutkan perjuangan sampai suami meraih gelar. 

Saya sangat bersyukur bertemu dengan ibu-ibu yang sangat luar biasa. Mereka mengajarkan banyak hal kepada saya. Dari mulai keyakinan untuk terus bertahan sampai dengan ilmu masak. Jadi kami saling berbagi ilmu. Ada yang pandai masak kue, mengajarkan cara membuat kue. Ada yang pintar nyetir, mengajari kami nyetir mobil. Ada yang pandai jahit, dengan suka rela mengajarkan ilmunya. Semua keahlian itu sangat bermanfaat bagi kami dalam mendukung perjuangan suami. Saya bersama ibu-ibu yang lain pontang-panting untuk mencari nafkah. Ada yang berjualan kue dengan cara nitip di kantin dan pasar, ada yang menjual jasa mengasuh anak, katering, jaga toko, dan menerima jahitan. Satu hal yang membuat saya salut, ibu-ibu itu berpendidikan tinggi, bahkan ada di antaranya yang kerja kantoran dan dosen di tanah air. Semua tidak gengsi demi meraih bahagia bersama keluarga.

Momen-momen indah pun terukir bersama para sahabat itu. Kami bagaikan satu keluarga karena kami senasib sepenanggungan. Kami bukan hanya berbagi bahagia bersama sahabat, tetapi juga berbagi duka. Jika salah satu mendapatkan kesulitan kami berusaha untuk saling membantu. Begitu pun ketika studi suami masing-masing menemui kendala, kami saling mencerahkan dan menguatkan. Ketika satu persatu suami kami menyelesaikan studinya, kami pun turut bahagia. Walaupun keberhasilan itu harus dibayar mahal, karena kami harus pulang ke tanah air dan berpisah dengan sahabat sejati.

Begitulah sepenggal kisah berkesan dalam kehidupan saya. Jika anda punya cerita seru mari tuliskan dan share di Berbagi Kebahagiaan Bersama Nova