Dalam Kejaran Maut

Kurapihkan bekal makanan yang akan kubawa ke tempat kerja. Satu botol air teh hangat, satu bungkus nasi, lengkap dengan sambal dan goreng ikan asin. Sejak dari subuh tadi, aku sudah bangun, membereskan rumah, mencuci piring dan masih kusempatkan menyetrika baju.

            Hari ini aku kebagian memetik teh di blok A, lokasinya persis ada di belakang pabrik pengolahan teh. Sejak bercerai dari suamiku 30 tahun yang lalu, aku bekerja di perkebunan teh ini. Aku membesarkan, anak semata wayang seorang diri. Kini ia sudah berumah tangga dan tinggal dengan istrinya di perkebunan teh yang lain.

            “Bi, mau berangkat sekarang?” kepala Nyi Lastri menyembul dari pintu dapur.

            “Sebentar lagi, Nyi,” jawabku, sambil mematikan api tungku.

            “Hari ini kebagian di blok mana, Bi?” tanya Nyi Lastri lagi.

            “Di blok A, Nyi,” jawabku, sambil melirik ke arahnya.

            “Oh, kalau gitu, Nyai duluan ya, Bi,” ujarnya, sambil berlalu.

            Tepat pukul tujuh pagi, aku meninggalkan rumah. Aku berjalan berhati-hati, karena jalanan sangat licin. Semalaman hujan turun, beruntunglah pagi ini mentari bersinar dengan ceria. Udara yang terasa membeku tadi malam, terasa hangat karena sinar mentari yang terang.

            Aku berjalan menyusuri perbukitan yang dipenuhi oleh kebun teh. Wangi khas tanaman ini, masuk ke rongga paru-paru, rasanya segar sekali. Walaupun tiap hari aku menghirupnya, namun tidak pernah bosan untuk merasakannya setiap pagi.

            Sesampainya di atas bukit, aku berdiri sesaat. Entahlah, tidak seperti biasanya, aku ingin menikmati pemandangan dari atas bukit. Tampak, rumah-rumah bambu milik kuli perkebunan berjejer rapi, anak-anak Sekolah Dasar terlihat sedang berbaris di lapangan sekolah. Aliran sungai tampak berkilauan diterpa sinar mentari yang ramah. Di sebelah kiri, terlihat bangunan peninggalan zaman belanda yang masih berdiri kokoh. Bangunan tersebut dijadikan wisma untuk tempat menginap tamu-tamu kehormatan dari kota. Seringkali aku diminta untuk membersihkannya. Nun jauh di sana, hamparan kebun teh laksana permadani hijau.

            Aku tersenyum sendiri. Aku merasa sebagai pemilik apa yang aku lihat, hingga enggan untuk meninggalkan perkebunan ini. Sejak remaja aku hijrah dari kampungku di Tasikmalaya dan bekerja di perkebunan teh Dewata Ciwidey. Di sinilah masa remajaku dihabiskan, di sini juga aku bertemu jodohku dan di sini juga aku melahirkan seorang anak. Tempat yang paling indah, yang pernah aku lihat. Mungkin, sisa umurku akan kuhabiskan di sini.

            “Bi Ayi, lagi apa? Pagi-pagi kok melamun,” suara lantang milik Euis, membuyarkan lamunanku.

            “Eh Euis, bikin kaget Ibi saja,” tampak Euis terkekeh di bedeng, tempat kami menyimpan perbekalan.

            “Ada apa Bi? Pagi-pagi kok melamun? Ingat sama si akang ya? lanjut Euis menggodaku.

“Huss.. sama orang tua mah jangan suka ngagoda,” kataku sambil menjawil pipi Euis.

“Nih Bi, mau sarapan, aku bawa combro” Euis menyodorkan bungkusan pelastik, bekal makanannya. Kami biasa saling berbagi bekal, karena sudah bertahun-tahun berteman jadi sudah seperti saudara.

Aku menikmati combro buatan Euis, makanan dari singkong ini memang enak rasanya. Apalagi ditemani, air teh yang masih hangat. Setelah selesai sarapan, kami pun berpencar. Aku memetik di sebelah barat sedang Euis memilih sebelah timur. Kami mulai asyik memetik teh, memilih daun yang masih muda dan bagus.

“Hati-hati Bi, licin,” terdengar suara Euis mengingatkan aku.

“Iya, Euis juga hati-hati,” tak terdengar jawaban Euis, mungkin ia sedang asyik memetik teh. Tak lama kemudian terdengar suara Euis yang merdu. Dia menyanyikan lagu-lagu Sunda. Euis memang senang menyanyi dan suaranya cukup merdu. Orang-orang suka meledek Euis dengan sebutan radio butut.

Aku terus memetik teh. Keranjang yang kubawa sudah penuh terisi. Aku mengambil keranjang yang lain. Tak terasa keringat membasahi dahiku. Sinar matahari mulai meninggi. Sinarnya menghangatkan tubuh.

 Sejak tadi aku melihat sedikit keanehan, tanah yang kami pijak terasa basah. Aku amati lagi, ada air yang terus mengalir. Entah dari mana asalnya, yang jelas air terus merembes membasahi tanah yang aku pijak. Sehingga jalan yang  dilalui licin sekali.

Tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari sebelah utara. Tepatnya persis berada di belakang bukit tempat aku memetik teh. Tanah yang aku pijak terasa bergetar hebat. Hampir saja aku terjatuh, untung ada sebatang pohon besar di dekatku, aku berpegangan kuat pada pohon itu.

“Lari… Lari…!!” Teriak Pak wardi, mandor kami, sambil berlari ke arahku.

“Longsor..Longsor.. “ Teriaknya lagi, seperti kesurupan.

Aku terpaku di tempatku, bengong, menatap Mandor Wardi yang lari dengan panik.

“Bi, ayo lari ! ada longsor,” katanya, ketika sudah sampai di depanku. Kemudian dia meneruskan larinya, diikuti oleh beberapa orang.

“Euis..Euis ayo lari..! ada longsor!!!” aku teringat sahabatku, Euis yang belum kelihatan.

“Iya Bi, Euis sudah ada di sini, di bawah,” terdengar suara Euis di kejauhan, rupanya ia memilih lari ke bawah.

 Aku loncat turun, menyusul Euis. Tiba-tiba dari arah barat datang berlarian, teman-temanku yang lain.

“Bi larinya ke sana ke barat, jangan ke bawah nanti kena longsor.”

Aku bingung antara menyusul Euis atau ikut saran temanku. Tiba-tiba, terdengar suara gemuruh yang lebih besar. Secepat kilat aku pun berlari, terus berlari, tanpa tahu arah yang kutuju. Apa menyusul Euis atau ke barat. Suasana begitu menegangkan, terdengar suara orang-orang berteriak, semua berlari, hanya itu yang bisa kami lakukan.

Kaki tuaku, rupanya tak sanggup lagi diajak berpacu dengan longsor yang mengganas. Kakiku lunglai, tak kuasa lagi untuk berjalan apalagi berlari. Aku duduk di bawah pohon pinus, aku menangis, meminta tolong kepada Allah.

“Ya Rabbi selamatkan hamba, tak ada seorang pun yang bisa menolong hamba, selain Engkau. Jika hari ini tiba ajalku, matikan aku dalam husnul khotimah. Aku meyakini Engkau ada, dan aku menghambakan diri pada-Mu…”

Kucoba bangkit, namun tak kuat, akhirnya aku merangkak, sambil terus bertakbir, memuji asma-Nya. Baru saja beberapa meter aku meninggalkan tempat tadi, terdengar suara gemuruh yang sangat dekat. Bukit tempat tadi aku berdiri, lumat dihantam luapan tanah dari lereng gunung.

“Allahu Akbar…Allohu Akbar….” aku histeris memuji asma-Nya. Kalau saja aku tidak diberi kekuatan untuk merangkak, habislah jasadku tertimbun milyaran kubik tanah. Aku memejamkan mata, tak sanggup menyaksikan kedahsyatan alam yang sedang menunjukan kegagahannya. Aku merasakan,  beberapa butir batu yang mengenai kepala, pelipis dan punggungku. Lelehan berwarna merah menghangat di pipi. Kuusap dengan jilbab usangku.

Aku buka mata perlahan, tampak di hadapanku, tanah merah menimbun jalan, rumah dan pabrik. Suasana begitu hening, tidak terdengar lagi suara gemuruh.

“Alhamdulillah, Ya Allah Engkau masih memberi kesempatan padaku untuk bernapas dan melihat dunia ini. “ Aku pun menangis tanpa suara. Suaraku menghilang.

Beberapa saat kemudian. Terdengar suara-suara panggilan di kejauhan. Ku edarkan pandangan ke arah barat. Rumah-rumah masih berjejer dengan rapih. Longsor tidak sampai ke sana. Oh berarti aku tadi lari ke arah barat, tidak ke selatan mengejar Euis. Aku terkesiap. Aku teringat sahabatku, Euis. Jarak kami tidak terlalu jauh, pasti Euis ada di sekitarku. Kucoba memanggil Euis, tapi suaraku tercekat. Aku hanya bisa memanggilnya perlahan.

“Euis, Euis, ini Ibi, Euis di mana?” panggilku dengan suara parau.

Hening. Tidak ada jawaban. Kuedarkan pandanganku. Kulihat milyaran kubik tanah menimbun deretan rumah di sebelah selatan. Pabrik tempat pengolahan teh pun tidak luput dari terjangan longsor. Bagaimana nasib teman-teman yang ada di perumahan dan pabrik? Apa mereka selamat?

Kucoba berdiri. Lutut rasanya bergetar. Kupaksakan untuk berdiri. Perlahan kulangkahkan kaki. Aku terus berjalan ke arah barat. Aku tidak berani menginjak tanah timbunan longsor, pasti labil. Kaki tiba di tepi sungai. Sungai yang dulu dialiri air yang jernih dari hulu tebing gunung. Kini dialiri lumpur. Sungai hanya tersisa setengahnya. Setengah badan sungai tertutup tanah. Hati-hati kuinjak batu besar yang ada di tengah sungai. Dengan susah payah aku sampai di tepi.

Kedatanganku sudah dinanti oleh tetangga yang berkumpul di lapangan yang ada di depan deretan rumah kami. Ibu-ibu langsung menghambur ke arahku. Mereka menghujani aku dengan ciuman dan pelukan. Di antara mereka ada juga yang menangis. Aku larut dalam suasana duka.

“Bi, Alhamdulillah selamat,” ujar Ani, tetangga terdekatku. Hari ini dia sakit, jadi tidak berangkat kerja. Kalau saja Ani sehat dan berangkat kerja, mungkin akan bernasib sama denganku.

“Euis mana?” tanyaku, pelan.

“Euis belum ditemukan, Bi,” jawab Ani.

“Bibi tadi bersama Euis?” tanya Mak Rasnah, ibu Euis.

Aku mengangguk pelan. Aku sangat khawatir terjadi sesuatu dengan Euis. Aku kembali mengingat-ingat terakhir bertemu Euis. Kupandangi wajah  Mak Rasnah yang bersimbah air mata. Pastinya dia khawatir sekali pada puteri bungsunya.

“Tadi Euis memetik teh di blok A,” ujarku, sambil menunjuk kebun tempat kami memetik teh tadi. Kebun itu berubah wujud menjadi timbunan tanah. Aku merinding melihatnya. Mudah-mudahan Euis selamat. Batinku.

“Pak Wardi, tolong cari Euis, di sana katanya,” teriak Mak Rasnah, sambil menyongsong mandor Wardi yang berjalan ke arah kami.

“Tenang, Mak, semua akan dicari,” mandor Wardi menenangkan Mak Rasnah yang sedu sedan.

Ketegangan menyelimuti hati kami semua. Tak seorang pun yang berani mendekat ke lokasi longsor. Kami khawatir ada longsor susulan. Tak berapa lama, muncul seorang lelaki paruh baya dari semak-semak. Wajahnya berlumuran darah. Begitu sampai di lapangan, dia langsung terjatuh. Orang-orang langsung mendekatinya. Ternyata, dia Pak Warso. Dia pun luput dari kejaran maut. Namun, istrinya tertimbun di dalam rumahnya. Sontak, kaum ibu bertangisan.

Kami diintruksikan untuk mengungsi. Kami harus meninggalkan rumah. Aku hanya sempat membawa beberapa helai baju dan mukena. Persediaan makanan masih bisa dibawa. Kami diarahkan ke lapangan sepakbola yang cukup jauh dari lokasi longsor. Sepanjang jalan hati gerimis, mendengar jeritan orang yang kehilangan kerabatnya. Semua orang hilang belum ditemukan, terbenam di bawah tanah.

Lapangan sepakbola, tempat yang biasanya menjadi pagelaran berbagai hiburan, kini menampung duka nestapa. Para lelaki mendirikan tenda darurat. Kaum ibu mulai memasak. Anak-anak sudah banyak yang menangis, kelaparan.

Waktu terus merayap. Senja memerah di ufuk barat, lama-lama menghilang, berganti gelap. Malam itu terasa begitu sunyi. Tak banyak mulut yang berbicara, semua asyik bercengkerama dengan trauma masing-masing. Aku sendiri, mulai merasakan ngilu-ngilu di sekujur tubuh. Luka-luka di wajah mulai terasa perih.

Sepanjang malam, hampir semua orang tidak bisa memejamkan mata. Rasa kantuk seolah menjauh. Kami begitu tersiksa dengan udara dingin yang menusuk sampai ke tulang. Hanya anak-anak yang bisa pulas. Seolah baginya tidak terjadi apa-apa. Malam itu kuhabiskan waktu untuk bertafakur.

Aku sangat bersyukur atas pertolongan Allah. Aku merasakan, begitu besarnya kekuasaan Allah atas diriku. Aku sudah diambang kematian. Beberapa senti saja, tubuhku nyaris tergusur longsor. Berkat pertolongan-Nya, aku masih kuat berdiri. Air mataku kembali barhamburan. Sungguh, aku merasa malu di hadapan Allah. Amal baikku masih sedikit, rasanya tidak layak untuk mendapat pertolongan-Nya.

Esoknya, suasana haru masih meliputi kami. Apalagi satu persatu mayat ditemukan. Alat-alat besar pengeruk tanah mulai berdatangan. Jeris tangis terdengar dari berbagai penjuru. Hati ini tersayat-sayat mendengar raungan ambulance yang membawa jenazah. Aku terduduk lemas, begitu jasad Euis ditemukan. Jasadnya ditemukan di belakang pabrik. Aku tak sampai hati melihat kondisi jasadnya.

Parade kematian terpampang di depan mata. Seolah mengajariku bahwa antara hidup dan mati nyaris tidak berjarak. Kapan pun ajal bisa datang.