Jamar Pohon Kurma dan Cinta Ibu

Usamah bin Zaid, adalah seorang sahabat Rasulullah saw.. Beliau terkenal sangat menyayangi ibunya. Usamah bin Zaid begitu memahami keutamaan berbakti kepada kedua orangtua. Maka sepanjang hidupnya Usamah bin Zaid senantiasa berusaha berbakti kepada kedua orangtuanya.

Usamah bin Zaid senantiasa berusaha memenuhi keinginan kedua orangtuanya yang sudah berusia lanjut. Apapun permintaannya akan dipenuhi. Pada suatu hari ibunya memanggil.

“Anakku, Ibu ingin sekali jamar pohon kurma. Bisakah engkau mencarikannya?”

“Bisa, Bu, saya akan mencarikannya untuk Ibu.” Jawab Usamah mantap.

Mendengar jawaban puteranya, ibu Usamah pun tersenyum bahagia. Kemudian Usamah bin Zaid pergi mencari jamar pohon kurma. 

Jamar adalah bagian batang pohon kurma yang masih muda dan berwarna putih. Letaknya di bagian tengah pohon kurma. Maka apabila hendak mengambil jamar, harus menebang pohon kurma.

Usamah bin Zaid tidak memiliki pohon kurma. Maka Usamah mencari orang yang hendak menjual pohon kurma. Saat itu sedang terjadi paceklik dan kemarau panjang. Sehingga harga buah-buahan menjadi sangat mahal. Termasuk pohon kurma. Satu pohon kurma dihargai 1.000 dirham. Orang akan berpikir ribuan kali untuk membeli pohon kurma. Apalagi hanya untuk mengambil jamarnya.

Namun, hal itu tidak menyurutkan itikad Usamah bin Zaid. Ia tetap bertekad untuk memenuhi keinginan ibunya. Maka, Usamah pun membeli sebuah pohon kurma seharga 1.000 dirham. Mengetahui hal itu, teman-teman Usamah keheranan.

“Usamah untuk apa kamu membeli pohon kurma sekarang ini? Harganya mahal sekali.” Tanya teman Usamah.

“Aku ingin mengambil jamarnya.”                                                                          

“Apa mengambil jamarnya?” teman Usamah terbelalak.

“Kamu ini keterlaluan sekali, membeli pohon kurma mahal-mahal hanya untuk mengambil jamarnya saja.” Lanjutnya, sambil geleng-geleng kepala.

Mendengar omelan temannya, Usamah hanya tersenyum. Ia tetap membelah pohon kurma dan mengambil jamarnya.

“Usamah, untuk apa jamar pohon kurma itu?” tanya temannya lagi.

“Ibuku memintanya. Apapun permintaannya akan aku penuhi.” Jawab Usamah. Teman Usamah terkesiap mendengar jawaban Usamah. Menurutnya, itu adalah pengorbanan yang luar biasa.

Setelah mendapatkan jamar pohon kurma, Usamah segera menemui ibunya. Usamah memberikan jamar pohon kurma dengan penuh suka cita. Sang ibu begitu senang menerima pemberian anaknya.