Mendidik Generasi Qurani

Jauh sebelum menikah, saya punya impian ingin membentuk keluarga yang Islami. Keluarga yang menegakkan syariah dalam kehidupan sehari-hari. Alhamdulillah, Allah swt. menakdirkan saya untuk mendapatkan pasangan hidup yang memiliki visi yang sama.

Kami, sama-sama belajar untuk mengaktualisasikan ajaran Islam dalam kehidupan kami sehari-hari. Kami akui, ilmu kami masih kurang, begitupun tingkat keimanan masih sangat dangkal. Sehingga kami punya semangat untuk saling mengingatkan dalam kebaikan. Kami pun saling memberi semangat untuk senantiasa mencari ilmu agama.

Salah satu cita-cita kami, adalah ingin memiliki keturunan yang mencintai Al Quran dan mau hidup di bawah naungan Al Quran. Sejak anak masih di dalam kandungan, sebisa mungkin kami, terutama saya untuk memperkenalkan Al Quran. Saya sering menempelkan tape recorder di perut saya, untuk memperdengarkan muratal Al Quran. Atau suami membaca Al Quran dekat perut saya.

Selama proses itu, saya sering merasakan hal-hal ajaib. Misalnya, bayi di dalam kandungan bergerak aktif ketika mendengar lantunan ayat suci Al Quran. Perus saya tegang, karena didorong oleh tangan si kecil.

Ketika si kecil sudah lahir. Maka sesering mungkin memperdengarkan murattal Al Quran di telinganya. Pada saat si kecil tidur, saya sengaja memperdengarkan murattal Al Quran. Biasanya si kecil akan lebih nyenyak tidurnya.

Selain itu, kami sering membaca Al Quran sambil menggendong si kecil. Harapan kami, ia akan akrab dengan ayat-ayat Al Quran. Dengan begitu, tidak sulit baginya untuk menghafal Al Quran.

Proses yang kami jalani itu, ternyata sedikit-demi sedikit membuahkan hasil. Ketika si kecil sudah bisa memegang benda, ia suka sekali memegang Al Quran. Selanjutnya, banyak hal lucu dari tingkahnya. Misalnya, ia membuka Al Quran, kemudian mulutnya komat-kamit menirukan membaca Al Quran.

Seiring berjalannya waktu, si kecil mulai tumbuh besar. Rasa ingin tahunya sangat besar. Kami mencoba mengajarkannya menghafal ayat-ayat pendek. Kemudian, membelikan CD murattal Al Quran untuk anak-anak. Subhanallah si kecil betah berlama-lama mendengarkan murattal sambil melihat gambar binatang.

Ketika si kecil cukup siap untuk belajar membaca Al Quran, saya mulai mengajarnya membaca setiap hari. Anak pertama mulai belajar membaca Al Quran sejak berusia 3 tahun. Adiknya mulai belajar sejak usia 5 tahun. Saya belajar banyak dari pengalaman mengajar anak pertama. Ternyata usia tiga tahun, anak belum siap betul untuk belajar membaca. Dia masih sulit konsentrasi dan sering lupa. Sehingga belajarnya sangat lama dua tahun, baru bisa membaca Al Quran. Maka adiknya, belajar membaca ketika sudah berusia lima tahun. Itupun dia yang minta sendiri. Hanya membutuhkan waktu tiga bulan, dia bisa membaca Al Quran dengan tartil (bagi ukuran anak-anak).

Untuk menunjang visi pendidikan yang ingin kami capai, anak-anak di sekolahkan di sekolah tahfidz Quran. Alhamdulillah proses hafalan Quran mereka cukup menggembirakan. Mereka mulai tertib untuk menghafal setiap hari. Si sulung sudah menghafal 10 juz Al Quran, adiknya yang berusia 9,5 tahun menghafal 4 juz dan anak no 3 berusia 7,5 tahun menghafal 1,5 juz.

Kami berharap, anak-anak menjadi para penghafal Quran dan mereka kelak menjadi penghuni surga. Duhai, alangkah bahagianya hati kami jika memiliki anak-anak yang mencintai Al Quran. Tapi perjalanan masih sangat panjang, usaha kami belum selesai. Satu harapan kami, semoga kami dan anak-anak istiqomah.

Tak terbilang kebahagiaan di dunia

Tapi kebahagiaan di akhirat lebih hakiki

Hanya dengan Al Quran

Kami bisa meraih kebahagiaan itu.