Mengais Hal positif dari Facebook

Fenomena Facebook

Pertengahan tahun 2010 sedang marak-maraknya berita tentang facebook (FB). Hampir setiap stasiun televisi mengangkat tema facebook dalam berita. Saat itu sedang muncul kasus kejahatan dengan menyalah gunakan facebook. Ada kasus perkosaan, penculikan anak, dan penipuan. Pemberitaan tersebut menarik perhatianku, dan aku menjadi ingin tahu tentang facebook. Sebelumnya aku tidak tertarik sama sekali dengan facebook.

Kesibukan mengurus rumah tangga dan mendidik anak-anak, membuatku tidak memiliki waktu luang untuk membuka internet. Apalagi di rumah tidak ada jaringan internet, memerlukan waktu banyak hanya untuk sekedar buka internet. Kami harus pergi ke warnet yang jaraknya cukup jauh.

Pemberitaan tentang facebook semakin santer. Semua teman-teman sudah memiliki akun facebook. Di setiap kesempatan kumpul-kumpul, sering membahas facebook. Aku bengong saja, menyimak dengan setia. Lambat laun ada menyelusup keinginan dalam hatiku untuk membuat akun facebook.

Pada suatu hari kuutarakan keinginan untuk membuat akun FB pada suamiku. Seperti sudah kuduga, suamiku tidak merespon dengan baik. Dia menyampaikan dampak negatif dari FB. Kami akhirnya diskusi alot, aku tidak sependapat dengan suamiku. Aku berpandangan semua media itu bebas nilai. Manusia sebagai pengguna yang akan menentukan nilainya, bisa bernilai positif, bisa juga bernilai negatif.

Akhirnya, suami mengizinkan aku membuat akun FB. Dengan bantuan seorang teman, aku pun membuat akun FB. Selangkah demi selangkah kupelajari penggunaan FB, ternyata tidak sesulit yang dibayangkan. Karena di rumah belum ada jaringan internet, sangat jarang sekali aku bisa membuka FB. Kalau pas ada waktu luang, aku numpang di perpustakaan kampus untuk internetan, baru bisa buka FB.

Fenomena FB pun semakin merebak, semua orang gandrung dengan FB. Muncul seleb-seleb baru di FB, yang rajin nampang dengan foto dan menuliskan status baru. Ada juga yang menjadikan FB sebagai tempat curhat dan mencari solusi dari masalah yang dihadapi. Tidak sedikit ternyata yang menjadikan FB sebagai rumah kedua, bahkan menjadi rumah pertamanya. Setiap waktu hilir mudik di FB dan semua orang dituntut untuk tahu aktifitasnya.

Meluruskan Niat

Sejak awal membuat akun FB, aku mencoba meluruskan niat untuk menjadikan FB sebagai sarana beramal soleh. Apalagi suami sudah memberi peringatan keras tentang dampak negatif FB.  Aku menyadari godaan FB luar biasa, bisa membuat kita terlena dengan waktu. Berjam-jam FB-an tidak akan terasa. Padahal sebagai seorang muslim kita dianjurkan untuk meninggalkan perbuatan yang sia-sia.

Aku senantiasa berusaha untuk memperbaharui niatku dalam berinteraksi dengan FB. Walaupun bukan perkara yang mudah, apalagi semua orang sudah menganggap hal lumrah untuk FB-an. Misalnya aku akan berpikir berulang-ulang untuk membuat status. Aku akan menilai statusku perlu tidak dituliskan, tujuannya untuk apa, ada manfaatnya tidak. Jika aku merasa statusku tidak penting, ya tidak usah membuat status.

Begitu juga, ketika mengomentari status orang. Aku akan pikir dulu masak-masak, aku khawatir komentarku membuat orang lain tersinggung. Karena sering aku melihat orang yang beradu argumen di FB, sampai terjadi perang dingin. Kalau aku merasa komentarku akan memancing hal yang tidak baik, aku urungkan komenku.

FaceBook menyajikan banyak pesona, sehingga kita semakin betah untuk terus menelusuri. Tanpa terasa sang waktu sudah bergulir sekian lama. Untuk satu hal ini aku mencobakan untuk mendisplinkan diri. Aku membiasakan diri membuka FaceBook kalau pekerjaan sudah selesai, sehingga pekerjaan rumah tetap tergarap dengan baik. Supaya tidak berlama-lama FB-an biasanya disambil dengan mengerjakan yang lain. Dengan begitu aku tidak bisa berlama-lama karena ada pekerjaan lain.

Dengan langkah-langkah seperti itu, sampai saat ini suami tidak keberatan lagi aku suka buka FB. Karena dia percaya akan komitmen yang sudah aku sampaikan di awal. Dan aku berusaha untuk senantiasa menjaga niat itu.

Bersilaturahmi di Facebook

Facebook memberi kemudahan pada kita untuk terhubung dengan siapa saja, sekali pun berada di berbagai penjuru dunia. Sejak memiliki  FB, satu persatu teman-teman lama ditemukan. Senengnya hati ini, bisa mengetahui keadaan teman-teman lama yang sudah belasan tahun berpisah. Rasa rindu pada mereka, sedikit terobati dengan melihat foto dan sekali-kali ngobrol.

Sejak berdomisili di Johor Bahru Malaysia, aku jarang sekali bisa bertemu dengan keluarga. Jika rindu datang, biasanya aku  menelpon  untuk sekedar menanyakan kabar. Sejak ada FB keluargaku  bisa melihat perkembangan putra-putri kami. Sehingga rindu mereka pada anak-anak sedikit terobati. Ketika aku baru melahirkan, mereka bisa langsung melihat wajah mungil bayi kami di FB. Begitu pun sebaliknya, aku bisa mengetahui perkembangan keluargaku di tanah air melalui FB mereka. Bisa dirasakan setelah menggunakan FB pengeluaran untuk pulsa bisa lebih ditekan.

Aku merasakan setelah ada FB silaturahmi dengan teman-teman semakin baik. Kami bisa mengetahui kabar teman-teman dalam waktu yang singkat. Misalnya ketika ada teman yang melahirkan, sakit atau terkena musibah lainnya. Aku bisa langsung mengucapkan selamat atau duka cita.

Walaupun silaturahmi bisa melalui media maya, namun tidak mengurangi aktifitas silaturahmi di dunia nyata. Karena menurutku, silaturahmi secara langsung lebih utama dibandingkan melalui media maya.

Membangkitkan Hoby

Sejak kecil aku memiliki hoby menulis. Beberapa tulisan pernah nembus media cetak ibu kota. Namun, sejak sibuk mengurus rumah tangga dan mendidik anak, hoby ini terabaikan.

Awal 2011 aku membeli modem internet, sehingga bisa lebih leluasa mengakses internet termasuk FB. Aku mulai menelusuri FB, aku melihat banyak sekali ajakan menulis, berupa lomba maupun tawaran antologi. Aku pun mulai berkenalan dengan beberapa penulis. Aku terkesiap, melihat buku-buku yang sudah mereka tulis, luar biasa, mereka begitu produktif. Aku seperti tersadarkan dari tidur yang panjang. Wah, ternyata selama ini aku banyak tertinggal di dunia penulisan.

Aku mencoba mengikuti sebuah lomba penulisan tingkat nasional. Dengan susah payah aku mencoba menulis, maklum sudah lama sekali tidak menulis. Tiga halaman artikel akhirnya bisa dikirim di menit-menit terakhir penutupan batas waktu. Aku menulis tersendat-sendat, karena putraku sakit keras. Tanpa kusangka aku masuk 20 besar, sebuah kejutan indah bagiku karena pesertanya mencapai 500 orang.

Keberhasilan itu seolah menjadi cambuk  untuk kembali bangkit menulis. Setiap ada tawaran lomba atau antologi aku berusaha ikut sesuai dengan kemampuanku. Alhamdulillah aku sudah memiliki beberapa buku antologi dan sedang proses menerbitkan buku solo.

Tanpa memiliki FB belum tentu aku dapat bersemangat menulis lagi. Di FB aku bisa dengan mudah mengakses informasi tentang lomba dan tawaran antologi. Selain itu, aku juga bisa berkenalan dengan banyak penulis yang hebat-hebat. Dari semangat mereka untuk berkarya, aku menjadi semangat juga untuk menulis.

Sekarang aku ikut beberapa group penulis yang ada di FB. Semakin banyak ilmu yang bisa kudapat dari layar FB, apalagi ada juga privat menulis di FB. Kalau mau buka FB sekarang niatnya ditambah selain untuk silaturahmi juga untuk mencari ilmu yang bermanfaat.

Mengais Rezeki di Facebook

Facebook sampai sekarang ini menjadi media yang sangat digandrungi. Penggunanya berjumlah ratusan juta orang. Masing-masing orang menggunakan FB sesuai dengan minatnya masing-masing. Ada yang hanya untuk iseng saja, ada juga untuk membuka peluang usaha dan memasarkan produk yang mereka jual.

Aku memanfaatkan FB selain untuk mencari ilmu, bersilaturahmi, mencari informasi seputar penulisan, juga untuk sarana bisnis. Sejak tujuh terakhir aku menekuni bisnis kecil-kecilan. Aku menjual perlengkapan baju muslim dan buku-buku Islam. Sebelumnya aku memasarkan daganganku dari bazar ke bazar, kemudian merekrut orang untuk bekerjasama memasarkan  dagangan. Setelah mengenal FB, aku mencoba memasarkannya via Face Book.

Aku membuat Face Book sendiri untuk memasarkan barang dagangan. Alhamdulillah pemasarannya cukup baik, pernah aku mendapat pesanan baju cukup banyak, setelah melihat contoh baju di FB.  Dengan memasarkan produk di FB semakin meningkatkan daya jangkau calon pembeli. Biasanya calon pembeli harus datang ke rumah, baru bisa memilih baju yang dikehendaki. Melalui FB, calon pembeli cukup dengan melihat foto-foto yang dipajang di FB dan kemudian memesan. Barang bisa diantar ke alamat pembeli. Dengan cara seperti ini lebih hemat waktu dan biaya.

Facebook, membantuku untuk mengembangkan usaha. Rencananya, aku akan membuka cabang toko online di tanah air bekerjasama dengan adik. Dari jarak jauh aku masih bisa memantau perkembangannya.

Facebook menjadi sarana bagiku untuk mencari rezeki yang halal dan baik. Kuberharap usaha ini terus berkembang dan memberi manfaat bagi orang banyak.

Ternyata Baik-Baik Saja

Setelah sekian lama menggunakan facebook, Alhamdulillah aku belum pernah merasakan dampak yang merugikan. Menurutku, semua tergantung pada sikap kita dalam menggunakan FB.  Pertama biar tidak muncul hal-hal negatif, kita harus selektif dalam memilih teman. Kalau tidak kenal, lebih baik tidak berteman. Kalau ada permintaan pertemanan, lihat dulu profilnya, kalau tidak jelas lebih baik abaikan saja.

Kedua,  kalau ada postingan aneh bin nyeleneh lebih baik tidak dibuka. Ketiga, menjaga keamanan facebook agar tidak dihacker. Keempat, bijaksana dalam menggunakan facebook. Perhitungkan waktu yang kita miliki sangat terbatas dibandingkan amanah yang harus kita kerjakan. Jangan sampai facebook menyebabkan kita melalaikan kewajiban yang harus ditunaikan.

Satu yang pasti, aku merasa menemukan kembali duniaku melalui FB. Yaitu dunia tulis menulis yang sudah lama kutinggalkan. Kini aku mulai kembali rajin menulis, aku mencanangkan sebuah cita di sana.

Melalui facebook, aku merasa dekat dengan keluarga dan teman-teman. Aku yang selama ini sering merasa kesepian, seperti menemukan dunia masa lalu yang penuh warna. Dunia yang menghadirkan kehangatan keluarga dan indahnya persahabatan.