Misteri Anak Pengemis

Perempuan ceking dengan topi belel menutupi kepala sampai keningnya, wajahnya yang legam berlubang seperti bekas cacar. Sosok itu kembali mengetuk jendela mobil kami yang berhenti di lampu merah. Suami menyodorkan uang recehan. Aku mendongak, mengintip anak dalam gendongannya yang terlelap. Anak sekitar usia 5 tahunan dengan kulit tak kalah legam dari perempuan itu. Ketika mobil mulai bergerak, mataku tetap mengekor mengikuti sosok pengemis itu. Tampak kaki anak itu menjuntai panjang.

“Anak sebesar itu kenapa digendong-gendong? pastinya berat,” kataku setengah mendengus.

“Justru itu senjatanya, biar orang-orang iba,” jawab suamiku, santai.

Pandanganku menyapu jalanan yang dilalui mobil, tapi pikiranku tetap membuntuti perempuan pengemis itu. Wajahnya yang dingin tanpa ekspresi seperti menyimpan misteri tersendiri. Siapa dia? kenapa harus sampai mengemis dan bawa anak pula? berjuta pertanyaan merayapi isi kepalaku. Dan semuanya tak menemui jawaban.

Pada hari yang lain, kami kembali mendapat ketukan halus dari seorang pengemis perempuan. Aku yang bersandar di kursi langsung duduk tegak dan memandang perempuan itu tajam. Oh, ternyata perempuan yang berbeda. Tapi… tunggu! anak yang dalam gendongannya sama, ya sama. Aku bisa pastikan anak itu sama. Aku mencegah suamiku memberi uang untuk sesaat. Aku masih ingin mengamati perempuan dan anak dalam gendongannya. Lekat-lekat kulihat, anak itu memang sama. Lalu perempuan ini siapa? ibunya? Lalu kalau di ibunya, siapa perempuan yang tempo hari menggendongnya. Berbagai analisa memberondongku, tapi semuanya sumir. Dan perempuan itu pun bergegas berlalu begitu menerima uang dari suamiku.

“Kok perempuannya beda?” gumamku.

“Iya, masa harus sama?” pungkas suamiku.

“Tapi, anaknya sama!” jawabku, sambil menggigit bibir.

“Masa sih? salah lihat kali,” bantah suamiku.

Aku diam saja, malas berdebat dengannya.

Di hari minggu yang cerah, kami sekeluarga berolah raga di GOR. Selesai olah raga, kami pun menikmati lontong sayur dan sate ayam. Selesai makan, suami dan anak-anak lelaki bermain sepeda. Sedangkan aku bersama putriku memilih menyusuri lapak pedagang yang memenuhi badan jalan. Aku bermaksud mencari kaos untuk anak-anak.

Pada saat sedang asyik memilih kaos, pundakku ada yang menyentuh. Spontan kumelirik. Aku sontak kaget. Ternyata yang menyentuh pundakku seorang pengemis perempuan dengan topi dikepalanya yang menutup sampai dahi, wajahnya dipenuhi totol-totol bekas cacar. Aku terpana sesaat. Kulihat anak dalam gendongannya, masih anak yang sama dan dia terlelap. Aneh, sudah siang begini anak itu masih tidur. Cepat-cepat kubuka dompet. Perempuan berwajah misterius itu, sedikit menggerakkan bibirnya. Kusodorkan uang seribu, sambil tersenyum manis padanya.

“Mba, anaknya kenapa? kok masih tidur?” selidikku.

“Iya, Bu, anak saya lagi demam,” jawabnya sambil memandang uang di tanganku.

“Oh, demam, sudah dikasih obat?” tanyaku, sambil melihat lebih dekat anak dalam gendongannya.

“Sudah, Bu,” jawabnya cepat sambil membuang muka.

“Kalau sakit, kenapa dibawa-bawa, Mba, kasian dia,” lanjutku.

Perempuan itu memandangku, tidak suka. Setelah mengambil uang di tanganku ia bergegas balik badan dan berjalan cepat.

“Mba tunggu, sini saya antar ke dokter,” aku mencoba mengejarnya.

Kami semakin dekat dan sekarang aku berada persis di belakangnya. Perempuan itu menghentikan langkahnya. Ia celingukan, seperti mencari seseorang. Di saat yang sama kupegang kaki anak itu, dingin. Dia bohong, anak itu tidak sakit. Tanpa kuduga seseorang menabrakku dari belakang. Seorang wanita ceking, berkulit legam, dan bertopi menyalipku. Kemudian dia menggandeng tangan pengemis yang kukejar. Wanita itu melirik kepadaku dengan wajah bengis. Aku bengong, kakiku terasa lemas. Aku hanya bisa memandang keduanya yang berjalan cepat meninggalkanku. Mataku nanar menatap anak dalam gendongannya. Aku seorang ibu, naluriku berkata ada yang tidak beres dengan anak itu. Tapi aku tak sanggup berbuat apa-apa.

Ya Allah, apakah anak itu korban sindikat pengemis yang memberinya heroin, obat tidur dan segala macam obat agar dia tetap tertidur. Hatiku menggigil membayangkan apa yang dirasakan anak itu.