Penciptaan Adam a.s (bagian 1)

Maha besar kekuasaan Allah Subhannahu Wa Ta’ala, atas kekuasaan-Nya bumi ini terhampar dengan indah. Komposisi yang seimbang antara daratan dan lautan, bentangan pulau-pulau dan tegaknya gunung-gunung. Panas dan hujan bergantian menyapu bumi,  matahari dan rembulan  dipergilirkan pada masa yang sudah pasti, selama ribuan tahun tidak pernah bergeser. Semua setia pada titah Tuhannya, tak  ada kuasa untuk membantah, tunduk patuh pada garis yang sudah ditetapkan.

Bentangan langit yang tidak berujung, menjadi bukti alangkah perkasa keberadaan-Nya. Taburan trilyunan planet yang berhimpun pada galaksi-galaksi,  tidak mampu dijangkau oleh mata dan akal manusia. Bagaimana semuanya bisa terjadi? Darimana berasal? Bagaimana terbentuknya planet? Semua pertanyaan itu melahirkan banyak teori, namun belum bisa menyibakan misteri alam yang berada dalam genggaman-Nya.

Satu yang pasti semua fenomena alam yang nampak oleh mata kita adalah bukti keberadaan Sang Pencipta. Keberadaan-Nya tidak bisa terbantahkan oleh Teori Evolusi, oleh kesombongan manusia, dan keingkaran makhluk-Nya. Semua yang ada di langit dan di bumi semakin meneguhkan keberadaan-Nya, tak ada satu pun yang bisa menggeser dari singgasana-Nya. Sebagai hamba-Nya, selayaknya kita semakin tunduk patuh dengan menghambakan diri seutuhnya tanpa terkotori oleh syirik dan kemunafikan.

Penciptaan langit dan bumi beserta isinya merupakan kehendak Allah SWT.  Melahirkan keserasian yang terlukis dalam alam raya ini. Begitu pun ketika Allah SWT berkehendak menciptakan Adam as. sebagai manusia pertama. Penciptaan manusia pertama yang menjadi cikal bakal umat manusia.

Imam Ahmad meriwayatkan, Yahya dan Muhammad bin Ja’far memberitahu kami, Auf memberitahu kami, Qasamah bin Zubair memberitahuku, dari Abu Musa, dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, beliau bersabda:

“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari genggaman yang Dia gengggam dari seluruh bumi. Kemudian anak cucu Adam datang ke permukaan bumi. Diantara mereka ada yang datang dengan kulit putih, merah, hitam dan diantara itu, buruk dan baik, mudah, sedih dan diantara keduanya.” (Hadits Hasan shahih)

Al Sabdi menyebutkan, dari Abu Malik dan Abu Shahih, dari Ibnu Abbas, dari Murrah, dari ibnu Mas’ud, dari beberapa orang sahabat Rasululloh Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka semua mengatakan. Maka Allah Subhanahu wa ta’ala mengutus Jibril ke bumi untuk mengambilkan tanah dari bumi untuk-Nya.

Lalu bumi itu berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari tindakanmu mengurangi diriku atau menyakitiku.”

Maka malaikat kembali dan tidak jadi mengambil tanah seraya berkata, “Ya Allah, bahwa bumi itu berlindung kepada-Mu, sehingga aku pun melindunginya.”

Selanjutnya Allah Ta’ala mengutus Malaikat Mikail, lalu bumi pun berlindung darinya. Maka Mikail pun kembali lagi dan mengatakan seperti apa yang dikatakan Jibril.

Setelah itu Allah Azza wa Jalla mengutus malaikat maut, bumi pun berlindung darinya. Lalu malaikat maut berkata, “Aku berlindung kepada Allah dari pulang kembali dan tidak menjalankan perintah-Nya.”

Kemudian malaikat maut mengambil tanah dari muka bumi dan mencampurnya. Ia tidak mengambil dari satu tempat, ia mengambil tanah putih, merah, dan hitam. Oleh karena itu, anak cucu Adam lahir dalam keadaan berbeda-beda.

Kemudian Malaikat Jibril membawa naik tanah itu. Selanjutnya Allah menerima tanah itu hingga akhirnya menjadi tanah liat. Lalu Dia berfirman kepada para malaikat:

“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh ciptaan-Ku. Maka hendaklah kalian tersungkur dengan bersujud kepadanya.”

Allah Subhanahu wa ta’ala menciptakan Adam dengan tangannya sendiri. Menurut beberapa riwayat prosesnya memakan waktu selama empat puluh tahun. Sebagian mufasir berpendapat, proses penciptaan Adam melalui 7 tahap, yaitu:

1.      Adam diciptakan  dari min turab (dari tanah)

2.      Adam diciptakan min thin (tanah yang sudah bercampur dengan air)

3.      Adam diciptakan min hama’ masnun (dari lumpur hitam) menunjukan terjadi perubahan tanah karena ada pengaruh udara.

4.      Adam diciptakan dari min thin lazib (tanah liat) menunjukan tanah yang sudah siap dibentuk

5.      Adam diciptakan shalhsalin min hama’ masnun min (dari tanah liat kering  yang berasal dari lumpur hitam) menunjukan kekeringannya.

6.      Adam diciptakan min shalshalin min fakhar (dari tanah kering seperti tembikar) menunjukan telah melewati proses pembakaran sehingga menjadi seperti tembikar

7.      Fase terakhir adalah ditiupkannya roh.