Saya, Orang Indonesia

Di suatu sore yang cerah, anak-anak sudah segar karena baru saja selesai mandi sore. Ditemani camilan ringan mereka asyik menonton pertandingan piala Thomas antara Indonesia dan Malaysia. Mereka sepertinya larut dalam serunya pertandingan, tepuk tangan dan atraksi loncat-loncat menyertai aksi mereka. Saya yang sedang membereskan pekerjaan di belakang merasa sangat terbantu, karena bisa menyelesaikan pekerjaan tanpa direcoki mereka. 

Selang beberapa waktu terdengar suara ribut-ribut, saya pasang kuping betul-betul. Rupanya sedang terjadi perang teluk diantara anak-anak. Terdengar suara teteh, si sulung melengking, sepertinya dia jengkel dengan adiknya. Dibalas dengan suara Aden dan kaka, mereka terus beradu mulut. Saya pun penasaran apa yang memicu perang mulut tersebut?

“ Sssttt… ada apa? Kok jadi ribut? “ Selidikku setelah berada di tengah-tengah mereka.

“ Ini Ummi masa Aden dan Kaka menangin Malaysia. “ Lapor si teteh sambil mendelik pada dua adiknya.

“ Biarin kan Ummi ?” Tanya Aden meminta dukungan

“ Ya ngga boleh ! kita harus menangin Indonesia! “ Sahut teteh

“ Emang kenapa ?” Tanya si kaka yang sedari tadi bengong.

“ Kita kan orang Indonesia, jadi harus menangin Indonesia. “ Jawab teteh tegas.

“ Weww… Kita kan orang Malaysia, iya kan kak? “ Balas Aden tidak mau kalah.

“ Iya…” Jawab kaka dengan santai.

Mendengar jawaban kedua adiknya, teteh tidak mau terima. Saya sendiri kaget, sejak kapan si kaka dan Aden merasa jadi orang Malaysia. Kaka sejak usia satu tahun memang sudah tinggal di Malaysia sedangkan teteh sejak usia 3,5 tahun. Kami pindah ke Malaysia karena suami mendapat beasiswa untuk melanjutkan study di Malaysia. Baru satu tahun di Malaysia, saya melahirkan putra ketiga, Aden.  Aden sekarang berusia tiga tahun, jadi kami sudah berdomisili di Malaysia selama empat tahun. Selama itu kami sudah pulang ke Indonesia sebanyak tiga kali.

“ Bukan ! Kita orang Indonesia, bukan orang Malaysia. “ Teteh berusaha menjelaskan.

“ Kita kan rumahnya di Malaysia, jadi Kita orang Malaysia. “ Jawab si kaka tetep tidak mau ngalah.

“ iya betul ! Hidup Malaysia…hidup Malaysia…” Teriak Aden sambil loncat-loncat, memberi dukungan pada pebulutangkis Malaysia.

“ Hidup Indonesia… hidup Indonesia…” Teriak teteh, tidak mau kalah.

“ Ayo kak, menangin Malaysia !” Ajak Aden sambil menarik tangan si kaka.

“ Tidak boleh ! Kita orang Indonesia ! “ Teteh menarik tangan kaka juga.

“ Sudah…sudah jangan berantem.” Saya mencoba melerai pertengkaran mereka.

“ Kita memang tinggal di Malaysia, tapi Kita berasal dari Indonesia, di sini Cuma sementara nanti akan pulang ke Indonesia. “ Saya berusaha menjelaskan dengan bahasa sederhana yang bisa dipahami anak-anak.

“ Ohhh… Orang Indonesia” Kata Aden dan kaka serempak.

“ Jadi Kita harus menangin Indonesia kan Ummi ?” Seru teteh girang, merasa di atas angin. Kujawab dengan anggukan kecil dan senyuman.

Sejak kejadian sore itu menyelusup kegundahan dalam batinku. Ternyata tanpa saya sadari anak-anak mengalami krisis identitas. Padahal selama ini saya berusaha memperkenalkan Indonesia pada mereka. Mungkin karena masih kecil mereka kurang paham, terbukti si sulung merasa Indonesia sekali. Teteh sudah bisa diajak diskusi, dia sangat antusias kalau saya bercerita tentang Indonesia. Bercerita tentang kekayaan alamnya, kisah heroik para pejuang, budayanya yang sangat kaya. Kebetulan dia pun ikut program home schooling yang mengadopsi pelajaran Indonesia.

Sejak saat itu, saya lebih sering bercerita tentang Indonesia pada Aden dan kaka. Sengaja saya membeli peta dan globe. Mereka sangat antusias ketika diberitahu letak Indonesia, saya jelaskan Indonesia itu sangat luas dan kaya. Ketika kami pulang liburan ke tanah air, dari atas pesawat anak-anak memperhatikan setiap pulau yang dilewati. Teteh menjadi guide yang baik, dia menceritakan ini pulau apa, ini pulau apa.

Untuk menambah rasa cinta tanah air, kami pun membawa mereka mengikuti Upacara Bendera di KJRI, ketika memperingati hari kemerdekaan. Pada momen ini mereka banyak bertanya, apa itu merdeka? Saya pun menceritakan tentang kisah perjuangan Bangsa Indonesia yang penuh kisah heroik. Tak lupa saya menceritakan kisah saya waktu kecil ketika menyambut hari kemerdekaan.

Anak-anak seringkali menggunakan bahasa melayu dalam percakapan sehari-hari. Saya meminta mereka untuk menggunakan bahasa Indonesia selama berbicara di rumah, kalau di sekolah mereka harus menyesuaikan dengan teman-temannya. Dan anehnya mereka meraih nilai tertinggi di kelasnya dalam pelajaran Bahasa Melayu. Gurunya sendiri heran, anak-anak nilainya selalu mendapat A, mengalahkan siswa pribumi.

Dalam hal makanan pun, saya berusaha untuk menyajikan makanan khas Indonesia. Walaupun resikonya harus selalu masak sendiri di rumah karena di luar umumnya masakan melayu. Alhamdulillah lidah anak-anak sangat Indonesia, mereka lebih senang makanan khas Indonesia dibandingkan masakan khas Melayu. Saya berharap usaha kecil ini bisa mengembalikan identitas anak-anak sebagai orang Indonesia dan menambah kecintaan mereka pada tanah airnya.

Pada suatu hari, sepulang dari sekolah teteh dan kaka bercerita. Di sekolah mereka diejek teman-temannya. Disebut sebagai orang Indon ( sebutan orang Melayu untuk orang Indonesia yang berkonotasi merendahkan ).

“ Teteh bilang sama mereka, Saya orang Indonesia bukan orang Indon ! “ Cerita teteh berapi-api.

“ Tapi mereka tetap ejek teteh Ummi, katanya orang Indon bodoh “ Katanya sedih

“ Tidak usah meladeni mereka, yang penting teteh dan kaka belajar yang rajin tunjukan sama teman-teman kalau orang Indonesia itu pintar-pintar”. Teteh dan kaka serempak mengangguk.

Ketika tiba waktunya pembagian raport, anak-anak menepati janjinya. Alhamdulillah keduanya mendapat juara kelas dan berhak mendapat anugrah cemerlang dari sekolahnya. Sejak saat itu anak-anak tidak lagi menerima ejekan dari teman-temannya. Bahkan guru-gurunya pun sangat menyayangi keduanya, mereka katanya bisa menjadi teladan bagi teman-temannya.

Terbanglah nak ke negri manapun, namun jangan lupakan negrimu, jadilah dirimu sendiri yang membawa hajat Bangsa. Sebarkan keharuman dan nama besar Bangsamu.