TKI, ANTARA IMPIAN DAN KENYATAAN ( STUDI KASUS TKI DI MALAYSIA )

Kondisi ekonomi di tanah air yang belum membaik mendorong sebagian rakyat Indonesia meninggalkan negeri tercinta untuk mengadu nasib ke negeri orang. Walaupun sebenarnya tinggal di negeri rantau bukanlah pilihan terbaik tapi terpaksa oleh keadaan, semakin sulitnya lapangan pekerjaan dan semakin mahalnya biaya hidup sehingga menekan perekonomian rakyat, memaksa saudara-saudara kita ini untuk meninggalkan tanah air.

Kepergian mereka membawa berjuta impian untuk bisa memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, terlepas dari lilitan kemiskinan. Salah satu negara yang banyak diminati TKI adalah negeri jiran Malaysia, dengan pertimbangan jarak yang dekat dan cultur yang tidak jauh berbeda. Di Malaysia para TKI bekerja di berbagai sektor seperti, pembantu rumah tangga, industri, pelayan, buruh bangunan dan bekerja di ladang-ladang. Walaupun banyak sudah kisah pilu para TKI di negeri jiran ini tapi tidak menyurutkan langkah mereka untuk mengadu peruntungan di negeri Pak Lah ini.

Di Malaysia  pekerja asal Indonesia terkenal ketekunannya dalam bekerja, sehingga setiap tahun permintaan TKI terus meningkat. Pekerja asal Indonesia menjadi prioritas utama untuk dipekerjakan di Malaysia dibandingkan negara lain karena persamaan kultur dan bahasa sehingga memudahkan dalam pekerjaan. Namun sayang walaupun TKI posisinya di atas angin, tidak berimbas pada nasib mereka. Dari segi gaji saja TKI dibayar paling murah dibanding pekerja asal Vietnam, Bangladesh dan Nepal. Perlakuan terhadap TKI pun jauh lebih kasar, baik berupa umpatan kotor bahkan kekerasan fisik., dan pelecehan seksual, 

 Para TKI jauh-jauh pergi ke negri rantau dengan tujuan mulia untuk membantu keluarga meningkatkan taraf hidup, menata masa depan yang indah. Mereka bukan saja pahlawan keluarga  tapi sekaligus sebagai pahlawan negara, mereka penyumbang devisa terbesar bagi negara. Namun walaupun sumbangsih TKI sangat besar, nasibnya tak kunjung membaik. Mereka laksana sapi perahan yang diperas disana sini. Mulai dari pembuatan paspor yang dikenakan biaya berlipat-lipat dari harga biasa, kehadiran PJTKI yang diharapkan untuk memudahkan urusan TKI ujung-ujumgnya memeras juga.

Untuk berangkat ke Malaysia saja TKI harus membayar antara 6 juta sampai 8 juta, padahal ongkos sampai ke Malaysia dengan pesawat tidak sampai 1 juta, sedangkan mereka banyak yang diberangkatkan dengan kapal laut yang tentunya ongkosnya jauh lebih murah lagi. Tak heran jika semakin banyak yang tertarik membuka PJTKI karena keuntungan yang menggiurkan.  Walaupun mendapat keuntungan dari TKI sangat disayangkan banyak PJTKI yang tidak profesional dan kurang keberpihakannya kepada kepentingan dan perlindungan TKI.  Tidak sedikit juga TKI yang ditipu PJTKI, sudah membayar jutaan rupiah tapi tidak jadi diberangkatkan.

Sudah dikatakan di atas bahwa tujuan TKI bekerja diluar negeri untuk memperbaiki taraf hidup, dengan bekerja di luar negeri dipastikan mendapat gaji yang tinggi. Menjadi TKI yang sukses menjadi impian semua orang, pulang kampung bangun rumah buka usaha dan kemudian hidup tentram berkumpul dengan keluarga. Namun sayang impian itu jauh dari kenyataan karena standar gaji TKI di Malaysia dapat dikatakan sangat rendah. Sebagai gambaran TKI yang dipekerjakan di sektor rumah tangga hanya menerima gaji sekitar RM 350 ringgit (senilai 800 ribu), yang bekerja di kilang (pabrik) dan ladang digaji dengan dua sistem.

Pertama sistem kontrak dihitung gaji harian berkisar RM 15-22 ringgit/hari senilai dengan  Rp 55.000 jika tidak bekerja maka tidak dibayar. Kedua sistem company diberikan gaji basic RM 400/ bulan jika  lembur ada tambahan RM 30-40 sehari, sabtu dan minggu terhitung kerja lembur. Gaji sebesar itu masih kotor ada potongan untuk tempat tinggal, listrik, air, dan visa bekerja/izin tinggal di Malaysia. Besarnya biaya visa bekerja yang harus dibayar TKI tidak sama tergantung agen yang mempekerjakan mereka, berkisar antara RM 50-130.   

TKI yang digaji dengan sistem kontrak jika bekerja penuh 30 hari sebulan maka menerima gaji kotor sekitar RM 660, sedangkan dengan sistem company  RM 400 tambah lembur penuh diambil gaji yang tertinggi 40 x 8 = 320 berarti total RM 720. Gaji sebesar itu harus mereka gunakan juga untuk hidup sehari hari di Malaysia yang ongkos hidupnya tinggi. Hitung saja satu kali makan yang paling murah RM 3 (Rp 8.000), tiga kali makan berarti RM 9, untuk makan saja sekitar RM 300 sebulan belum untuk keperluan yang lain. Berapa yang bisa mereka kirim untuk keluarga di tanah air atau disisihkan untuk tabungan.

            Gaji sebesar itu sangat kecil dibandingkan pengorbanan sosial dan modal yang mereka keluarkan di awal. Pergi keluar negeri pengorbanan sosialnya sangat besar, berpisah dari keluarga jauh dari kontrol orang tua, seorang suami harus berpisah dari istri dan anak, begitu juga istri berati ada kewajiban-kewajiban yang tidak bisa ditunaikan. Anak jadi korban utama, betapa menderita jauh dari pengasuhan orang tua yang seharusnya selalu dekat dengannya. TKI yang berangkat ke luar negeri memikul beban besar karena menjadi tumpuan harapan keluarga, stigma di masyrakat yang bekerja di luar negeri pasti gajinya besar, pasti dapat bangun rumah.

Inilah yang disebut dengan beban sosial, tidak sedikit TKI yang baru datang stress karena merasa impiannya kandas tidak bisa memenuhi harapan orang tua. Dari beban sosial melahirkan penyakit sosial, tidak sedikit TKW yang akhirnya mengambil jalan pintas mencari lembur tambahan sebagai PSK, hal ini memang tidak enak di dengar tapi itulah kenyataan yang ada di lapangan. TKI  banyak juga yang terlibat pergaulan bebas karena kurang pengawasan dari orang tua. Sering terjadi kasus aborsi atau kabur dari kilang karena takut ketahuan hamil, banyak juga yang terkena penyakit lesbian.

Di Malaysia beberapa tahun terakhir ini TKI ditangani oleh agen penyalur tenaga kerja. TKI tidak terikat langsung ke perusahaan tapi ke Agen, termasuk dalam penyaluran gaji. Kehadiran Agen bukannya memudahkan TKI malah menambah beban penderitaan TKI. Mengapa? pertama Agen bisa sewenang-wenang memindahkan TKI dari perusahaan satu ke perusahaan yang lain sehingga pemerintah Indonesia semakin sulit melacak keberadaan TKI. Ada kasus TKW yang baru lulus SMU ditempatkan di Johor sebulan kemudian dipindahkan ke Kuala Lumpur, entah sekarang dipindahkan kemana lagi.

Kedua, setelah ditangani agen gaji yang diterima jauh berkurang, ada pengalaman seorang TKI tanpa sengaja melihat resit gaji yang seharusnya dia terima, alangkah kagetnya karena total gaji yang tertera di resit sangat besar sedangkan yang diterima hanya 60 % saja. Ketiga, Agen memungut biaya visa kerja yang harus dibayarkan TKI tidak sama, tidak jelas berapa jumlah resmi dari pemerintah Malaysia sendiri. Visa kerja yang dibayar TKI berkisar antara RM 50-130/bulan, selisih yang cukup jauh dan lebihnya ini mengalir ke kantong Agen. Khusus untuk pembantu rumah tangga, Agen mengutip RM 4500 kepada calon majikan, angka yang sangat fantastis. Keempat, Agen tidak berpihak kepada TKI ketika ada permasalahan dengan majikan, misal gaji yang tidak dibayar,  sulit untuk beribadah, dll.

Baik pemerintah Malaysia maupun Agen sangat diuntungkan dengan kehadiran TKI. Disamping kehadiran TKI sangat menunjang pembangunan Malaysia, ada banyolan seandainya TKI semua dipulangkan maka Malaysia akan lumpuh, pemerintah Malaysia pun mendapatkan pemasukan dari biaya visa kerja, berapa trilyun setiap bulan yang masuk ke kas pemerintah Malaysia. Agen apalagi mereka meraup keuntungan yang sangat besar. Ada fenomena aneh yang perlu dicermati oleh semua pihak, TKI mengeluh banyak cuti karena pekerjaan kurang sehingga berimbas pada gaji mereka, ada yang sampai menerima gaji hanya RM 100 per bulan tetapi anehnya Agen meminta penambahan jumlah TKI baru. Dapat disimpulkan semakin banyak  TKI yang bekerja di Malaysia semakin banyak pula keuntungan bagi pemerintah dan Agen, sedangkan bagi TKI sendiri merugikan. Tak salah jika orang berpendapat pengiriman TKI ini sebagai trafficking, karena banyak pihak yang mengambil keuntungan dari TKI.

Masih banyak permasalahan yang membelit TKI dan tentunya harus segera diselesaikan. Pemerintah sebaiknya segera menertibkan pihak-pihak yang berkaitan dengan TKI Mulai dari PJTKI kalau keberadaannya malah menimbulkan masalah apa tidak sebaiknya penyaluran tenaga kerja ke luar negeri langsung ditangani pemerintah saja sehingga akan memudahkan pengawasan dan penyelesaian masalah TKI. Disamping itu pemerintah pun perlu duduk bersama melakukan pendekatan kepada pemerintah tujuan TKI, sampaikan bahwa TKI adalah duta bangsa yang harus dihargai karena di belakang mereka ada pemerintah.  Dengan langkah bersama diharapkan nasib pahlawan devisa ini menjadi lebih cerah dan mereka betul-betul dapat menguntai impiannya menjadi kenyataan yang indah.