Waspadai Kuas Bulu Babi

Ibu-ibu ketika membuat beberapa jenis kue suka menggunakan kuas, baik untuk mengolesi mentega, telur atau pewarna hiasan. Kuas yang beredar di pasaran terbuat dari beragam bahan. Ada yang dari plastik, ada juga yang dari bulu hewan.

Berdasarkan pengakuan dari beberapa orang, kuas yang terbuat dari bulu memiliki tekstur lebih halus dan lembut. Sehingga kuas bulu ini sering menjadi pilihan baik untuk mengolesi kue maupun untuk kecantikan. Masalahnya, dari hewan apa bulu tersebut berasal? bagaimana jika berasal dari hewan yang haram?

Satu hal yang mengejutkan, kuas yang banyak dipakai dan mendominasi pasar adalah kuas bertuliskan “bristle” di gagangnya. Dalam kamus Webster, bristle diartikan sebagai pig hair alias bulu babi.

Pengetahuan masyarakat secara umum sangat kurang tentang kuas yang layak digunakan. Saya pun pernah mengalami, asal beli saja. Untungnya pas mau dipakai, itu kuas ngilang tak tahu rimbanya. Beberapa lama kemudian ketemu nyelip cantik di lemari. Setelah saya teliti, jadi geli lihat bulu putih kuas tersebut, akhirnya saya buang dan beli lagi dari bahan plastik.

Seperti yang kita pahami, dalam hukum Islam babi haram untuk dimakan dan digunakan. Bukan hanya dagingnya tapi seluruh bagian babi, termasuk bulunya. Sebagaimana diterangkan dalam Al Quran surat Al Maidah ayat 3, Al An’am ayat 145, dan An-Nahl ayat 115.  Masalah kuas ini selintas seperti hal sepele, padahal sangat penting. Karena bisa menyebabkan najis atau haram pada makanan yang kita konsumsi.

Penting kita ketahui bahwa kuas dari bulu/rambut babi biasanya berwarna putih dan lembut. Harganya lebih mahal dari kuas berbahan lainnya. Kita bisa mengetahui identitas kuas dengan cara membakarnya. Jika berasal dari bulu binatang maka akan tercium seperti daging panggang. Sedangkan kuas yang berasal dari ijuk, sabut, dan plastik, jika dibakar akan mengeluarkan bau abu pembakaran.