5 Gedung Kuno Peninggalan Zaman Belanda Ini Masih Berdiri Kokoh di Bandung

1. Gedung Sate

 Gedung ini adalah sebuah bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Bandung. Disebut sebagai Gedung Sate karena gedung ini mempunyai ciri khas yang unik, yaitu ornamen 6 tusuk sate yang ada di atas menara sentral. 6 tusuk sate ini melambangkan 6 juta Gulden yang dipakai untuk membangun gedung berwarna putih ini pada masanya. Gedung ini dibangun pada tahun 1920, saat ini menjadi kantor pemerintahan provinsi Jawa Barat. Bangunan kuno ini masih berdiri megah dan kokoh. Keunikan bangunan ini menjadi daya tarik bagi masyarakat Bandung dan wisatawan untuk berfoto di sana.

 2. Gedung Merdeka

 Gedung Merdeka yang terletak di Jalan Asia Afrika Bandung. Gedung ini pada tahun 1895, hanya berupa bangunan sederhana. Bangunan yang mempunyai luas tanah 7.500 meter persegi itu, menjadi tempat pertemuan “Societeit Concordia”, sebuah perkumpulan beranggotakan orang-orang Eropa, terutama Belanda yang berdomisili di Kota Bandung dan sekitarnya. Pada 1921, bangunan yang diberi nama sama dengan nama perkumpulannya tersebut, yaitu Concordia, dirombak menjadi gedung pertemuan “super club” yang paling lux, lengkap, eksklusif, dan modern di Nusantara oleh perancang C.P.

Wolff Schoemaker dengan gaya Art Deco. Dan tahun 1940, dilakukan pembenahan pada gedung tersebut agar lebih menarik, yaitu dengan cara merenovasi bagian sayap kiri bangunan oleh perancang A.F. Aalbers dengan gaya arsitektur International Style. Fungsi gedung ini adalah sebagai tempat rekreasi. Setelah Proklamasi Kemerdekan Indonesia (17 Agustus 1945), gedung ini dijadikan markas pemuda Indonesia menghadapi tentara Jepang dan selanjutnya menjadi tempat kegiatan Pemerintah Kota Bandung.

Ketika pemerintahan pendudukan (1946 – 1950), fungsi gedung dikembalikan menjadi tempat rekreasi. Menjelang Konferensi Asia Afrika, gedung itu mengalami perbaikan dan diubah namanya oleh Presiden Indonesia, Soekarno, menjadi Gedung Merdeka pada 7 April 1955. Hingga kini gedung ini masih berdiri megah dan memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat untuk mengabdikannya dalam kilatan kamera. 

3. Grand Hotel Preanger

 Hotel yang berdiri megah di jalan Asia Afrika ini bangunannya sudah cukup tua. Bangunan ini awalnya berfungsi sebagai toko, namun karena semakin banyaknya pelancong dari sekitar Priangan yang datang, oleh W.H.C. Van Deeterkom lalu mengubah toko tersebut menjadi sebuah hotel. Peristiwa di tahun 1897 inilah yang menjadi cikal bakal dari Grand Hotel Preanger. Hotel Preanger yang didirikan oleh Van Deeterkom ini selama lebih dari seperempat abad menjadi kebanggaan orang-orang Belanda di Kota Bandung. Hingga kini Grand Hotel Preanger banyak didatangi oleh pelancong lokal dan manca negara.

 4. Bosscha Lembang 

Lokasinya berada di Lembang, Jawa Barat, sekitar 15 km di bagian utara Kota Bandung. Tempat ini berdiri di atas tanah seluas 6 hektar, berada di atas ketinggian 1310 mdpa atau pada ketinggian 630 meter dari Plato Bandung. Untuk kode Observatorium Persatuan Astronomi Internasional untuk Observatorium Boscha adalah 299. Gedung yang dibangun tahun 1923 ini sampai detik ini masih berdiri kokoh.

 5. Gedung Isola 

Jika kita melangkahkan kaki memasuki perataran kampus UPI Bandung, di sisi kiri akan tampak gedung menjulang tinggi dengan arsitektur khas Belanda. Itulah gedung Isola. Villa Isola dibangun pada tahun 1933, milik seorang hartawan Belanda bernama Dominique Willem Berretty. Kemudian bangunan mewah yang dijadikan rumah tinggal ini dijual dan menjadi bagian dari Hotel Savoy Homann. Perkembangan selanjutnya, ia dijadikan Gedung IKIP (sekarang UPI) dan digunakan sebagai kantor rektorat.