Apa itu Masa Remaja ?

Remaja berasal dari kata latin yaitu Adolessence yang berarti tumbuh menjadi dewasa. Menurut ahli psikologi remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa, rentang usianya antara 12 – 18 tahun.

Dalam Islam, remaja adalah seseorang yang sudah baligh. Seseorang dikatakan sudah baligh batasannya jelas, yaitu ada tanda-tanda tertentu. Pada perempuan ditandai dengan datang bulan (menstruasi), sedangkan pada laki-laki ditandai dengan mimpi basah.

Masa remaja pasti akan dilalui oleh semua orang. Dengan kata lain, masa remaja adalah fase kehidupan yang akan dialami oleh siapa saja. Masa ini begitu penting bagi perjalanan kehidupan anak manusia. Masa remaja adalah tonggak bagi kehidupan berikutnya.

Dalam pandangan Islam, masa remaja ini berarti sudah menjadi mukallaf, yaitu terkena kewajiban dan hukum. Jika anak sudah remaja (baligh), maka ia sudah wajib menjalankan syariat Islam, seperti salat, puasa, dan menutup aurat. Semua amal ibadahnya akan tertulis atas namanya sendiri, begitu juga amal buruknya.

Saya sering menerima keluhan dari orangtua bahwa anak-anak mereka yang sudah remaja sulit disuruh untuk beribadah. Akibatnya, sering terjadi ‘perang’ antara orangtua dan anak. Seharusnya ini tidak terjadi. Ketika anak sudah remaja, berarti ia siap melaksanakan berbagai kewajibannya.

Realita yang ada sekarang ini, menimbulkan keprihatinan pada kehidupan remaja kita. Remaja  banyak terperosok pada kehidupan gelap, melanggar norma-norma agama, tidak  menjalankan perintah Allah Swt.. Ini adalah PR besar untuk orangtua.

Sebagai orangtua, kita memiliki kewajiban untuk mendidik anak-anak kita, sehingga menjadi pribadi yang saleh, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta bertanggung jawab terhadap kehidupannya. Hal ini tidak bisa dilakukan secara singkat, tapi merupakan proses berkesinambungan yang diawali dari masa kanak-kanak.

Orangtua banyak yang tidak siap menghadapi anak-anaknya memasuki usia remaja. Mereka baru panik ketika sudah terjadi hal negatif pada anaknya. Dan kesadaran itu terlanjur terlambat karena anak sudah terjerumus pada perbuatan dosa.

Ada kisah pilu dari ayah dan ibu. Keduanya shock berat, mendapati anak gadis mereka yang baru berumur 15 tahun melahirkan seorang bayi di WC sekolah. Ayah ibu malang itu, tidak menyadari perubahan besar yang terjadi pada puteri tercintanya, padahal mereka satu rumah. Anak cerdas itu pun harus menanggung resiko dikeluarkan dari sekolah. Kemana saja ayah ibu? Mereka baru sadar setelah menerima tamparan sangat keras. Waktu tentu tidak bisa diputar balik, penyesalan pun sudah tidak ada gunanya lagi.

Ada banyak orangtua yang kaget menghadapi perubahan sikap anak-anaknya begitu mereka memasuki usia remaja. Anak manis nan penurut, berubah menjadi seorang emosional dan senang membangkang. Orangtua buta dengan dunia remaja, sehingga memberikan respon yang tidak tepat pada perubahan tersebut. Alih-alih mendapatkan solusi, malah terjebak pada permasalahan baru.

Kita sebagai orangtua dituntut lebih serius dalam mendidik anak. Mendidik anak tidak bisa sealakadarnya. Zaman hidup anak-anak kita berbeda dengan zaman kita dulu. Tantangan zaman sekarang lebih besar. Kemajuan teknologi selain menghadirkan kemudahan hidup, juga membawa efek negatif bagi kehidupan anak-anak kita. Coba kita perhatikan, berapa persen tayangan televisi yang ramah terhadap perkembangan anak kita. Begitu pula dengan internet, jika tidak bijak penggunaannya akan menjadi pintu gerbang menjerumuskan anak kita pada hal-hal yang negatif.