Bocah Rohingya Sebatang kara Di Lautan

Anak kecil nalurinya selalu ingin dekat dengan ayah dan ibunya. Tak ada seorang pun anak kecil di dunia ini yang mau terpisah dari kedua orangtuanya. Namun, keadaan tidaklah selalu ramah dengan anak-anak. 

Kerasnya kehidupan ini seringkali memaksa anak-anak untuk terpisah jauh dari orang-orang yang dicintainya. Tangan kecil mereka dipaksa untuk mengepal kuat menerjang batu karang kehidupan yang semakin keras. Tentu saja mereka haus dengan kasih sayang dan belaian lembut ayah dan ibunya. Mereka pun merindukan dekapan hangat dan perlindungan dari orang-orang terkasihnya. Begitulah yang dialami oleh ratusan anak-anak Rohingya yang kini terdampar di bumi Aceh.

Anak-anak malang tersebut sampai di bumi Aceh tanpa kedua orangtuanya. Mereka sebatang kara mengadu hidup di laut lepas demi melanjutkan sisa hidup dan menggamit secuil harapan di masa depan. Seorang relawan yang bernama Joko tergugu begitu melihat seorang anak yang bergumam memanggil ayahnya, “Daddy, Daddy.” Saat itu Pak Joko sedang bertugas mengirim bantuan ke penampungan pengungsi Rohingya di Muara Cangkoi, Aceh Utara.

Anak tersebut menggamit sepasang sepatu yang baru didapatnya dari seorang relawan yang membawa pakaian pantas pakai dan berbagai kebutuhan pengungsi. Anak tersebut memeluk kaki laki-laki dewasa yang ditemuinya. Rupanya anak tersebut mencari ayahnya. Ia ingin dibantu mengenakan sepatu baru yang dipegangnya.

Pak Joko pun langsung memasangkan sepatu anak tersebut sambil menahan tangis. Setelah sepatunya terpasang, anak malang itu pun tersenyum dengan binar di matanya. Kemudian ia berlari mendekati teman-temannya yang sedang berkerumun berebut permen.

Entahlah, apa yang terjadi pada kedua orangtua anak tersebut. Apakah mereka terbunuh di tanah kelahirannya? atau mereka menitipkan buah hatinya bersama pengungsi lain dengan harapan mendapat kesempatan hidup yang lebih aman? Entahlah tidak ada yang tahu pasti, yang jelas kini anak tersebut memancangkan harapannya di bumi Aceh.