Bukan Ibu Biasa, Membesarkan 13 Anaknya Seorang Diri

Aku tidak pernah menyangka sebelumnya, akan mendapat ujian yang sangat berat sepanjang hidupku. Di usia yang masih muda (33 tahun), suami yang begitu kucintai meninggalkan kami untuk selamanya. Selanjutnya aku harus menghidupi ke-13 anak kami seorang diri. Awalnya aku sempat shock menghadapi ujian ini. Aku gamang, bingung dan sedih yang teramat dalam. Bagaimana mungkin aku mengurus dan menafkahi ke-13 anak yang masih kecil-kecil. Putri sulungku baru kelas 3 SMA, sedangkan si bungsu baru berumur satu tahun, sebelas lainnya berderet. Jarak umur anak-anakku berselang hampir satu tahun-an.

Melihat wajah anak-anakku, semangat hidupku kembali bangkit. Aku sadar, tidak boleh terbenam dalam nestapa terlalu lama. Ada mulut-mulut mungil yang harus aku suapi dan nafkahi. Almarhum suami, tidak meninggalkan warisan yang banyak. Sebagai pegawai negeri rendahan, kami mendapat uang pensiun setiap bulan yang hanya cukup untuk membeli beras dan sabun. Sepeninggal suami, aku dan anak-anak harus segera meninggalkan rumah dinas yang selama belasan tahun kami tempati. Beruntunglah, ibuku mempersilahkan kami untuk menempati rumahnya yang cukup luas di daerah Bandung selatan.  Kami pun tinggal di sana dan mencoba untuk menata masa depan yang tidak jelas dalam benakku.

Aku memanfaatkan uang pemberian teman-teman suami untuk modal jualan makanan. Dengan sebuah meja kecil, aku membuka warung kecil-kecilan di teras rumah. Saat itu aku hanya berpikir, bagaimana caranya untuk memanjangkan uang pensiun agar cukup untuk satu bulan. Sehingga kami bisa bertahan hidup.

Anak-anak yang sudah besar, tanpa kuminta mereka turun tangan membantu. Si sulung bertugas merapihkan rumah dan memotong sayuran, adik-adiknya ada yang menemaniku ke pasar, mengambil air bersih, cuci piring, dan jaga warung. Menurut hitung-hitunganku, usahaku tidak cukup untuk membiayai kehidupan kami. Tapi aku yakin, sangat yakin, ada Allah yang tidak akan mengabaikan kami. Di rumah ini ada 13 anak yatim yang berjuang untuk hidup, aku hanya bisa berusaha semampuku selebihnya aku serahkan kepada Allah.

Setiap hari, aku bangun di sepertiga malam terakhir. Sebelum ke pasar aku selalu sempatkan untuk sholat malam. Aku memohon pertolongan kepada Allah. Sebelum subuh aku berangkat ke pasar untuk belanja. Selepas sholat subuh, aku langsung mulai memasak. Pagi-pagi aku jualan bubur ayam, sekalian anak-anak bisa sarapan. Siang hari aku jualan nasi lengkap sampai malam. Setiap tidur, tulang-tulangku rasanya mau copot, sendi-sendiku ngilu semua. Tapi semua kutahan, tidak pernah aku mengeluh di depan anak-anak. Di tengah kesibukan berjualan, aku masih menyempatkan diri untuk menemani anka-anak belajar dan mengaji.

Alhamdulillah, walaupun hidup serba terbatas, kami tidak pernah kelaparan. Anak-anak pun bisa bersekolah dengan layak. Hanya si sulung yang Cuma tamat SMA, karena ia berkeras tidak mau kuliah dan lebih memilih membantuku. Adik-adiknya, semuanya bisa mengecap bangku kuliah. Aku juga sangat bersyukur, anak-anak tidak ada yang nakal, semuanya baik dan rajin membantu. Mungkin mereka sadar kondisi kehidupannya berbeda dengan yang lain. Hampir semua anak-anakku juara kelas, hingga mereka bisa sekolah di negeri dengan biaya yang lumayan terjangkau olehku.

Setiap aku menghadiri wisuda mereka, air mata ini tidak mampu kubendung. Air mata bahagia dan syukur yang tiada terkira. Tangan renta ini diberi kekuatan oleh Allah untuk mengantarkan anak-anak yatim meraih kesuksesan. Kini mereka ada yang bekerja sebagai guru, pengacara, manajer di perusahaan besar, ABRI, Polisi, sekretaris, dan konsultan.

Tanpa pertolongan Allah, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Di setiap sujud panjangku dalam keheningan malam, aku senantiasa memohon perlindungan-Nya, memohon limpahan rezeki-Nya dan pertolongan-Nya. Aku hanya seorang ibu rumah tangga biasa yang tidak punya banyak keahlian. Namun bagi Allah mudah saja untuk menolongku. Jualanku tidak pernah sepi, selalu laris dan semakin berkembang.

Kini di hari tuaku, aku menikmati hidup dengan tenang. Aku sudah tidak jualan lagi, anak-anakku melarang. Mereka bahu membahu membuatkan rumah dan memberangkatkan aku naik haji. Sungguh kebahagiaan yang tiada terperi, apalagi mereka senantiasa mencium tanganku dan membisikan “Terimakasih bu, tangan ibu begitu berjasa bagi hidup kami.”

Mewahnya Ramadhan di Libanon 

8 Makanan ini Bisa Mencegah Penyakit Berbahaya