Kisah Pertaubatan Seorang PSK

Terlahir sebagai anak tunggal dari orang kaya, masa depan sudah bisa dipastikan cerah. Namun, tidak demikian yang terjadi pada diriku. Hidupku justru terpuruk. Aku terlahir dari seorang Ibu yang berparas cantik. Ketika gadis Ibu menjadi bunga desa. Tak heran jika banyak lelaki yang ingin mempersuntingnya. Entah apa sebabnya, justru Ibu menjatuhkan pilihan pada Ayah, seorang duda. Ayah memang tampan dan anak orang terpandang. Sejak muda Ayah tidak pernah merasakan hidup susah. Ayah  sangat dimanja oleh orangtuanya.

Ayah sejak muda terkenal seorang playboy. Setiap wanita yang diincarnya pasti berhasil ditaklukkan. Kalau aku jadi Ibu, aku tidak akan memilih Ayah sebagai suami. Tapi Ibu terlanjur cinta. Hingga Ibu pun lebih memilih diam, ketika dalam pernikahannya sering mengalami pengkhianatan. Entah berapa kali Ayah kedapatan ada main dengan wanita lain. Ibu tidak pernah protes, paling menangis diam-diam. Aku sering mendapati mata Ibu sembab. Aku tidak berani bertanya dan menduga macam-macam. Ibu selalu berusaha tegar di depanku.  Aku pun tidak pernah mendengar pertengkaran Ibu dan Ayah.

Aku mewarisi fisik yang sempurna dari kedua orangtuaku. Aku termasuk gadis berparas cantik. Masa kecilku kulewati dengan indah. Limpahan kasih sayang dari orangtua dan keluarga begitu besar. Aku menjadi pusat perhatian mereka. Beranjak remaja, aku tumbuh laksana kembang desa. Aku menjadi buah bibir karena kecantikan dan kekayaan orangtua. Banyak teman lelaki yang mencoba mendekati, namun saat itu aku ingin fokus belajar. Aku ingin sekolah setinggi mungkin. Aku tidak ingin seperti Ayah dan Ibu yang berpendidikan rendah.

Petaka dalam hidupku berawal ketika aku sakit panas. Saat itu aku sudah kelas tiga SMP. Aku sudah berobat ke dokter tapi demam masih naik turun. Kemudian Ayah mendatangi seorang dukun, aku pun dijampi-jampi. Tapi aku tidak kunjung sembuh. Tiga bulan lamanya aku terbaring lemah. Sekolah pun berantakkan. Setelah tiga bulan, aku berangsur membaik. Aku ingin langsung sekolah, tapi tidak bisa. Aku harus ngulang kelas, karena terlalu lama berhenti. Aku sangat kecewa. Hanya beberapa bulan lagi kelulusan. Di saat yang sama, Ayah mengalami kebangkrutan.

Sejak muda Ayah gemar berjudi. Rumah kami sering dijadikan tempat perjudian. Hampir tiap malam, Ayah berjudi. Akhirnya Ayah kena batunya, ia kalah berjudi. Padahal saat itu Ayah memiliki usaha yang lumayan. Ayah usaha jual beli emas, bahkan sudah punya toko emas. Banyak teman Ayah yang berinvestasi. Namun kini usaha itu bangkrut, gara-gara judi.

Seorang teman Ayah datang menolong. Alangkah girangnya hati Ayah. Semua hutang akibat judi dilunasinya. Namun, dengan syarat yang sangat berat. Orang itu ingin menikahiku. Ayah dan Ibu menyetujui. Hatiku menjerit. Bagaimana mungkin aku menikah dengan lelaki seumur Ayah. Ayah dan Ibu terus membujuk, akhirnya hatiku luluh. Oh ternyata aku mengikuti jejak orangtuaku, tidak mengecap pendidikan tinggi.

Kami pun menikah dengan cara sederhana, tidak ada pesta pora. Bagi seorang duda beranak dua, rasanya tidak perlu ada perayaan lagi. Walaupun aku sendiri sangat ingin ada pesta, karena ini pernikahan pertamaku. Tapi aku mengalah. Selanjutnya aku mengarungi biduk rumah tangga dengan hampa. Suamiku punya hobi yang sama dengan Ayah, berjudi. Pada suatu malam, dia kalah besar. Dia pun dikejar penagih hutang. Diam-diam suamiku melarikan diri entah ke mana, meninggalkan aku dan bayi kami yang baru lahir. Setahun, dua tahun, tiga tahun dia tak kunjung datang. Ayah murka, lalu menyuruhku untuk menggugat cerai. Kami pun bercerai.

Janda. Itulah statusku sekarang. Tepatnya, janda beranak satu. Status yang sering mendapat ejekan masyarakat, kini kusandang. Tak berapa lama aku menjalin kasih dengan seorang pemuda. Wajahnya tampan. Dia berasal dari kota. Kami berkenalan ketika bertemu di tempat wisata. Singkat cerita kami semakin dekat dan berencana untuk menikah.

Pernikahan kali ini digelar dengan pesta besar. Sepertinya Ayah ingin menebus kesalahannya terdahulu. Kebahagiaan yang sudah di pelupuk mata buyar begitu saja. Di malam menjelang pernikahan, calon suamiku sms. Dia membatalkan pernikahan kami tanpa alasan yang jelas. Kami pun kalang kabut. Pernikahan tidak mungkin dibatalkan, tamu undangan sudah siap datang besok pagi. Ayah mencoba menghubungi calon suamiku tapi gagal. Ketika kami sedang bingung, datang seorang pemuda mengantarkan sound system.

“Yul, gimana kalau pemuda itu saja yang menikah denganmu?” bisik Ayah, matanya mengekor pemuda itu.

“Apa?” aku kaget.

“Ayah lihat pemuda itu baik, Yul,” lanjut Ayah, enteng.

Aku memandangi pemuda yang sedang membenahi sound system. Pemuda itu terlihat sopan dan tekun bekerja. Aku baru melihatnya kali ini. Wajahnya sih kalah tampan dengan calon suamiku. Aku pun mengangguk. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi, yang terpikirkan bagaimana menyelamatkan nama baik keluarga.

Kini aku bersanding di pelaminan dengan lelaki asing. Lelaki yang sama sekali tidak kukenal. Aku tidak mencintainya. Satu yang pasti lelaki itulah yang menyelamatkan nama baik keluargaku. Lalu bagaimana masa depan pernikahanku? Aku tidak tahu. Aku ikuti saja alur kehidupan laksana dongeng ini.

Walaupun awalnya sulit, akhirnya aku dan suami asingku bisa membina rumah tangga. Ketulusan cintanya, meluluhkan hatiku. Dia pun sangat menyayangi puteraku. Suami dipekerjakan di toko sama Ayah. Menginjak dua tahun usia pernikahan, kami dikarunia seorang anak. Kebahagiaan kami pun semakin sempurna. Kesangsian orang banyak tentang pernikahan “sandiwara” ini dapat kami tangkis. Setidaknya kami bisa bertahan selama dua tahun ini. Cinta sudah bersemi bahkan bermekaran di hati kami.

Gelombang kehidupan yang berkali-kali menghantam hidupku rupanya belum usai. Gelombang pasang kembali menerjang keluarga kami. Semuanya dikarenakan ulah Ayah yang keranjingan judi. Pada malam tahun baru, Ayah mempertaruhkan uang puluhan juta di meja judi. Dan dia kalah. Ayah jatuh bangkrut. Toko emas pun gulung tikar. Setiap hari rumah kami didatangi penagih. Mereka adalah yang berinvestasi pada Ayah. Menghadapi para penagih Ayah pun mengambil langkah seribu. Ayah memang pengecut. Tinggallah Ibu yang harus menghadapi kemarahan para penagih. Penderitaan Ibu semakin menjadi. Terisar kabar, Ayah menikah lagi dengan seorang janda. Mereka tinggal di tempat terpencil. Entah apa yang ada dalam benak Ayah. Nalarku tidak bisa memahaminya.

Kehidupan keluarga kami limbung. Bagaimana tidak, selama ini kami tergantung pada Ayah. Suamiku menjadi pengangguran. Dia berusaha berjualan mainan di pasar, tapi penghasilannya tidak mencukupi kebutuhan keluarga kami. Dengan tekanan ekonomi yang cukup berat, emosi kami sering tak terkendali. Kami pun sering bertengkar. Akhirnya kami pun bercerai. Aku menjanda untuk yang kedua kalinya.

Menanggung hidup dua anak dan Ibu, tidaklah mudah bagiku. Apalagi aku tidak memiliki modal ijazah. Pekerjaan apa yang bisa kudapatkan dengan ijazah SD. Ditengahkan kekalutan pikiran, datanglah Mirna. Dia teman semasa sekolah. Mirna mengajakku bekerja di sebuah kafe. Kata Mirna tugasku hanya menemani tamu minum, tidak lebih dari itu. Aku langsung tertarik. Tanpa pikir panjang aku pun ikut dengan Mirna.

Ini adalah pengalaman pertamaku keluar dari kampung. Selama hidup, aku tidak pernah beranjak dari desa tempat kelahiranku. Kini aku berada di kota besar yang gemerlap. Mirna langsung mengajakku ke kafe tempat dia bekerja. Ah ternyata melamar pekerjaan tidak sulit seperti yang kubayangkan. Tanpa ijazah pun aku bisa bekerja di kafe elit ini. Semua pekerja di kafe ini ditempatkan di sebuah rumah besar. Kami tidak dipungut biaya sama sekali. Kami hanya memikirkan makan sehari-hari saja.

Malam harinya, aku langsung bekerja. Mirna memberi banyak petuah. Aku manut-manut saja. Kata Mirna, wajahku mendukung pekerjaan di kafe, pasti banyak tamu yang suka. Wuah, hidungku langsung melambung. Malam itu aku berubah wujud. Mirna mendandaniku habis-habisan. Aku pasrah saja. Kupikir, pasti Mirna ingin memberi yang terbaik untukku.

Sesampainya di kafe. Aku terperangah. Seumur-umur baru kali ini memasuki kafe mewah yang hingar bingar. Mirna menuntunku mendekati meja bar. Langkahku terseok-seok, tidak biasa dengan sepatu berhak tinggi. Tanganku sibuk menarik-narik ujung rok mini. Mirna memberi isyarat, agar aku bersikap tenang. Aku berusaha menenangkan diri.

Tak lama kami berdiri, seorang tamu, lelaki setengah baya mendekati. Mirna bicara dengan mesra pada orang itu. Kemudian Mirna memperkenalkan aku pada lelaki setengah baya itu.

“Sana, temani dia minum!” bisik Mirna di telingaku.

Aku pun menurut. Aku mengikuti lelaki itu. Kami duduk di salah satu meja. Aku mencoba melakukan apa yang diajarkan Mirna. Pelan-pelan kutuang minuman yang sudah terhidang di meja. Kemudian kuangsurkan minuman itu ke depan lelaki setengah baya yang duduk disampingku. Aku berusaha tersenyum seramah mungkin untuk menutupi takut dan rasa gugup.

“Terimakasih, kamu sopan sekali, aku suka,” ujar lelaki itu sambil tersenyum genit.

Aku menunduk. Tidak tahan dengan pandangannya. Rasanya aku ingin lari dari tempat itu. Tapi, aku harus bertahan demi Ibu dan anak-anak. Mencari pekerjaan sekarang bukanlah perkara gampang.

“Kamu tidak minum?” bisik lelaki itu nyaris menempel di telinga.

Aku menggeleng sambil menggeser duduk. Lelaki itu tersenyum. Entahlah apa maksud senyumnya, yang jelas aku jijik. Kuedarkan pandanganku, merncari Mirna. Kudapati Mirna sedang berjoget bersama seorang lelaki. Aku kaget melihat polah Mirna. Dia menari sambil tertawa-tawa. Sepertinya dia mabuk.

“Temani abang ke kamar, yuk!” ujar lelaki setengah baya itu, sambil menggeser duduknya mendekatiku.

“Maaf, aku tidak bisa,” jawabku gugup. Mau apa lelaki ini, jangan-jangan dia mau kurang ajar. Bisikku dalam hati.

Untungnya lelaki itu tidak memaksa. Selanjutnya kami ngobrol-ngobrol. Lelaki itu mengaku duda. Istrinya meninggal dua tahun yang lalu. Dia bekerja di sebuah perusahaan besar. Sampai tengah malam kami ngobrol. Ketika pulang dia menyelipkan uang ratusan ribu di tanganku. Kata Mirna, uang itu tidak usah disetor sama bos. Girangnya hatiku. Satu malam saja aku bisa mendapatkan uang ratusan ribu. Aku langsung teringat Ibu dan anak-anakku. Besoknya, uang itu langsung aku kirim untuk mereka.

“Yul, bos marah tuh,” ujar Mirna, sambil menghampiriku.

Mirna baru bangun ketika matahari sudah berada di ubun-ubun. Tadi malam dia mabuk berat, sampai rumah langsung tidur.

“Marah, kenapa?” tanyaku, heran.

“Tamu kamu yang semalam, lapor sama bos, pelayanan kamu kurang memuaskan,” lanjut Mirna, sambil menyeruput kopi punyaku.

“Maksudnya?” aku menatap Mirna, lekat.

“Ikuti semua kemauan tamu, mereka adalah raja,” ucap Mirna, tegas.

“Sampai ke tempat tidur?” tanyaku, pelan.

“Yup, itu tugas kita,” sambar Mirna.

“Lho, kata kamu dulu, kita Cuma me

nemani minum saja, tidak lebih dari itu,”

“Alahhh, kamu jangan munafik ya, masa gitu aja enggak ngerti, ini zaman modern, Yul,” ujar Mirna, melengos.

Aku tidak berani lagi menyanggah omongan Mirna. Aku tahu pasti, Mirna akan marah besar jika ditentang. Akhirnya, hidupku gelap bagai puritan. Aku terjebak dalam lembah hitam. Aku menjadi manusia kotor bergelimang dosa. Semua, terpaksa kulakukan demi kelangsungan hidup anak-anakku. Mereka butuh makan. 

Malam minggu, malam yang dinanti. Tamu yang datang akan membludak. Artinya, kami akan panen raya. Aku dan Mirna sudah dandan sejak sore. Sejak bekerja di sini, salat sudah tidak lagi kukerjakan. Rasanya aku sudah tidak pantas lagi untuk salat. Terlalu kotor.

Malam itu, Mirna kelihatan cantik sekali. Wajahnya sumringah, menebar senyum. Mirna langsung digaet seorang lelaki. Dia menari sambil minum. Aku menunggu beberapa lama, sampai akhirnya tamu langgananku datang. Ketika kami sedang asyik ngobrol dan minum, terdengar kegaduhan. Orang-orang berkerumun di tengah arena menari.

“Mirna jatuh,” teriak seseorang.

Aku langsung berlari mendengar nama Mirna disebut. Aku menyeruak di dalam kerumunan. Tampak Mirna tergeletak di lantai. Kugoncangkan badan Mirna. Tak reaksi. Mirna pingsan.

“Tolong, cepat tolong Mirna,” pintaku sambil terisak.

Mirna dilarikan ke rumah sakit oleh bos kafe. Aku terus berada di samping Mirna. Wajah Mirna memucat. Hatiku bergemuruh. Sesampainya di rumah sakit, Mirna langsung dibawa ke ICU. Kami menunggu di luar. Aku terus merapal doa. Baru kali ini aku kembali berdoa, setelah sekian lama melupakannya. Aku menengadah memandang langit yang pekat. Rasa takut merayap di hatiku. Aku takut, takut sekali.

“Mana keluarga Mirna?” seorang suster keluar dari ruangan ICU.

Kami berpandangan, “Saya,” ujarku.

“Maaf, kami sudah berusaha, tapi Mirna tidak bisa diselamatkan,” ujar suster, gamblang.

Kami semua terkejut. Tangisku langsung pecah. Mirna kini sudah tiada. Sang maut menjemputnya ketika dia sedang asyik menari. Ya Allah. Aku terduduk, lututku lemas. Kupeluk badanku. Menangis sejadinya.

“Ya Allah, maafkan aku,” rintihku dalam hati.

Aku ikut mengantar jenazah Mirna sampai ke pemakaman. Aku memutuskan untuk tidak kembali ke tempat kerja. Sejak kematian Mirna, aku memutuskan untuk mengakhiri petualanganku sebagai kupu-kupu malam. Aku ingin menata hidup yang lebih baik bersama anak-anak.

Kita tidak pernah tahu, bagaimana akhir kehidupan kita. Satu yang pasti, hidup kita di dunia akan berakhir. Bukan akhir segalanya. Karena hidup kita yang abadi justru baru dimulai. Nasib kita nanti ditentukan kehidupan kita saat ini. Bekal apa yang kita bawa untuk kehidupan kelak?  Hidup bukan arena perjudian yang ditentukan oleh keberuntungan. Kita boleh memilih alur hidup kita. Alur hitam atau alur putih.  Ketika kita pernah memilih alur hitam, bukan berarti tertutup alur putih. Tuhan Maha Pemaaf. Masih terbuka pintu tobat untuk siapa saja. Bisnis hidroponik

Aku mulai merintis usaha kecil-kecilan. Aku membuat kue, kemudian dijual di toko-toko. Tanpa kuduga, usahaku melesat. Bahkan, kini aku menerima pesanan dari perusahaan tambang yang baru berdiri di daerah tempat tinggalku. Hampir tiap hari aku menerima pesanan kue dalam jumlah cukup banyak. Alhamdulillah, semua berkat pertolongan Allah Swt.. Aku mulai mempekerjakan beberapa orang tetangga. Senangnya dapat membuka lapangan pekerjaan bagi orang-orang yang membutuhkan. Penghasilan dari jualan kue ternyata cukup untuk biaya makan dan sekolah anak-anak, bahkan aku masih bisa menabung. Peluang bisnis baru

Penyesalan sering menghantuiku. Mengapa dulu, begitu gampang terjerumus dalam lembah kehinaan. Aku sering menangis jika mengingat dosa-dosaku. Aku masih beruntung, masih diberi kesempatan untuk bertobat.  Konsep bisnis dalam Al Quran