Mengapa Wanita Sedang Haid Dilarang Berpuasa?

Selama bulan Ramadhan umat Islam diwajibkan berpuasa. Bagi yang tidak  berpuasa tanpa adanya alasan syar’i maka berdosa. Ada beberapa kondisi di mana kita boleh tidak berpuasa, bahkan diharamkan berpuasa. Salah satunya adalah bagi wanita yang sedang datang bulan (haid).

Hal ini dijelaskan oleh Rasulullah saw., sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan Dari Abu Said Al-Hudri, Rasulullah SAW bersabda:  ”…Bukankah jika (seorang wanita) haid ia tidak shalat dan tidak puasa?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Islam sebagai ajaran yang sempurna dan bersifat insaniah, begitu paham kondisi manusia. Demikian juga dengan wanita yang sedang haid. Di masa haid, diperkirakan wanita kehilangan darahnya sebanyak  34 mililiter.  Kadar yang sama pada cairan lainnya. Sehingga pada masa haid banyak kaum wanita yang merasa sakit dan lemas.

Para medis menganjurkan agar ketika dalam keadaan haid, wanita banyak beristirahat dan mengkonsumsi makanan yang bergizi. Seperti makan makanan kaya zat besi (contohnya bayam, daging-dagingan, dan ati ampela), makanan tinggi protein (contohnya telur dan ikan), makanan tinggi serat (sayur berdaun dan buah-buahan), dan sumber vitamin C yang membantu penyerapan zat besi dalam tubuh.

Dalam kondisi tertentu, perempuan juga dianjurkan mengonsumsi tablet tambah darah yang kaya akan zat besi untuk membantu proses pembentukan darah  dan mencegah anemia.

Dengan kondisi seperti itu maka sangat berat bagi wanita yang sedang haid untuk menjalankan ibadah puasa. Begitulah hikmah yang terkandung dari larangan wanita sedang haid menjalankan puasa.

Lalu bagaimana cara mengganti puasa yang ditinggalkan selama sedang haid?

Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda, ”Kami diperintahkan untuk mengqadla puasa dan tidak mengqadla shalat.”

Jadi puasa yang ditinggalkan selama haid diganti dengan puasa di hari lain di luar bulan Ramadhan.